Vanilla

Tags

, , ,

tumblr_lpunmnXZNK1qzc871o1_400

“A heart weighs more when it splits in two; it crashes in the chest like a broken plane.” ― Mitch Albom, The Time Keeper.

Seseorang dulu pernah berkata kepada saya;
hati-hati jatuh cinta.
Beberapa bulan, sebelum saya tertegun melihat ibunya anak-anak di sudut Tawan.

Dulu sekali,
pernah saya baca satu kutipan;
kadang cinta memang datang untuk kemudian dilepaskan.

Saya hanya tidak mengira,
kutipan itu semacam fakta.

Permasalahan yang datang berulang;
kesalahan-kesalahan saya yang berulang;
pengulangan-pengulangan yang menjenuhkan;
berujung pada satu titik sampai jumpa.

Hari ini,
Tiga puluh hari yang lalu,
ada dua puluh empat kaki di rumah ini.

Dua kaki saya,
dua kaki ibunya anak-anak,
dan masing-masing anak adalah empat kaki.
Kami, memiliki lima anak yang sehat, gembul, berekor, berbulu,
bermata binal, dan bertingkah aneh kadang-kadang.
Mereka menggonggong, bukan bergumam.
Dari sisi manusia, mereka adalah apa yang dinamakan anjing.

Hari ini,
lima belas hari yang lalu,
kami masih menonton televisi,
dengan siaran standar ala hiburan keluarga,
dan bercanda di atas karpet merah,
lalu pergi tidur,
dalam hangatnya satu-sama lain.

Hari ini,
saat ini,
saya duduk sendiri.

Di depan layar hitam yang berkedip lambat;
mencoba merunut kembali masa yang saya sia-siakan;
mencoba mencari senyum gadis di sudut Tawan tadi di dalam file-file sel otak saya.
Saya mencoba,
dan saya menemukan banyak yang tak terduga.

Bahwa kami pernah berjalan bersama,
di suatu pagi di pasar kota hujan,
yang kemudian berbuah seikat gerbera, enam tangkai warna-warni yang dibungkus koran.

Bahwa kami pernah ke kota kembang,
hanya dalam rangka jalan-jalan,
lalu gadis di sudut Tawan tadi masuk angin,
dan tiba-tiba saya jadi tukang pijat profesional.

Bahwa kami pernah melewati banyak hal.
Tapi belum pernah melewati ini..

Saya hilang.
Larut dalam malam.
Takut tidur dengan mimpi berulang yang sama,
setiap malam.
Berakhir dengan beberapa paracetamol,
hanya untuk tidur singkat,
dengan mimpi yang sama, yang lebih singkat,
lalu kembali menjadi kacung kampret,
hari demi hari,
sejak enam belas hari yang lalu.

Irama musik tentang cinta mengganggu saya,
aroma vanilla menghentikan langkah saya, hanya untuk mencari yang tiada.

Ibunya anak-anak..

Kesayangan saya.

Advertisements

Edisi Sup Ayam Kulit Rusa

Tags

, ,

enhanced-buzz-24366-1387647616-29

“I imagine a line, a white line, painted on the sand and on the ocean, from me to you.” ― Jonathan Safran Foer, Everything Is Illuminated.

Apa yang lebih menyenangkan dari ketidakharusan bangun pagi?

Ya, ketidakharusan bangun pagi,
ditambah dengan sesudah bangun pagi ada kopi dan rokok.
Tentu lengkap dengan edisi singkong rebus empuk,
atau roti bakar.

Apa yang lebih menggembirakan dari ketidakharusan bangun pagi,
sudah ada kopi, singkong rebus dan rokok?

Ya, ketidak harusan bangun pagi,
singkong rebus, kopi, rokok, ditambah dengan istri yang senyam senyum walaupun masih dalam daster tidur,
dan anak bangun dengan gembira tanpa ompol dan iritasi karena pipisnya sendiri.

Ada yang lebih lengkap dari itu?

Ada,
semuanya ditambah dengan penyedap rasa ala dunia.
Uang.

Uang,
menjadi passport, penyedap rasa, penambah selera hidup,
dan tentu tidak kalah,
menjadi sarana, prasarana,
bahkan untuk beberapa tipe manusia,
telah menjadi visi dan misi dalam hidup.
Baik dalam edisi jangka panjang, maupun jangka pendek.

Lalu,
jika sedang musim liburan,
tersedialah ketidakharusan bangun pagi,
singkong rebus, kopi, rokok, asbak, korek dan tetek bengeknya;
ditemani istri tersayang yang senyam senyum, menimang anak yang tidak sedang bergaul dengan iritasi urin,
dan punya uang 10 milyar,
kita bahagia?

Belum tentu.

Manusia seperti didesain susah bahagia.

Sudah dapat bonus tahunan; sudah dapat THR;
sudah punya asuransi kesehatan; sudah bergaji quarter digit atau lebih dari yang mampu dihitung kalkulator-pun belum tentu bisa bahagia.

Kok?

Karena uang-nya tadi itu..
cuma penyedap rasa.
penambah selera.

Ya kalau di-logika-kan memasak sup ayam.
Itu ajinomotonya.

Kalau airnya, mungkin memang akan matang.
Garamnya mungkin bisa ditambah.
Tapi kalau ayamnya busuk?
Apalah guna penyedap.

Seisi rumah menjadi busuk.

Analogi saya berjalan demikian.
Melihat beberapa manusia yang sepertinya telah menjadi kacang versi jawa;
atau boleh dikata ‘kacang lali lanjaran’; ‘kacang lupa kulit’

Kok?

ya bukan salah dua kelinci kalau sekarang banyak kacang tinggal kunyah.

Salah kacangnya,
kenapa mau ditelanjangi,
lalu dibumbu-bumbu-bumbu-bumbu aneka rasa.

Pikiran saya sedang liar.

Harus liar,
karena saya seolah seperti di hutan.
Harus dapat saya nyalangkan mata,
untuk tahu mana rusa mana singa.

Lalu kemudian saya perlu berkaca,
apakah saya rusa,
ataukah saya singa.

Natal kali ini,
tanpa perlu saya cerita,
ayah saya ada di doa.

Kemudian para rusa
dan para singa
lalu kacang-kacang tadi;
baik kacang yang masih menempel pada kulitnya;
maupun yang sudah ditelanjangi dan dikemas dengan barcode dan bumbu aneka rasa.

Mau kemana wahai saudara?

pesan saya cuma satu,
untuk semangkuk sup ayam;
saya mau ayam yang tidak busuk.
Tidak usah terlalu dipikirkan soal asin manis pedasnya;
saya hipertensi.

Koin

Tags

, , , ,

clouds05

My dad said to me growing up: ‘When all is said and done, if you can count all your true friends on one hand, you’re a lucky man.’- Josh Charles.

Saya ingin mengenal kamu.

Berjalan dalam sepatu yang kamu pakai,
melihat ke dalam kaca yang kamu susuri ketika menyisir rambut.
Merasakan air yang terteguk,
atau sekadar merasakan telunjuk kanan menghempas pelan abu rokok dari batangnya.

Untuk sekejab saja,
saya ingin mengenal kamu,
pa.

Bukan papa yang saya lihat secara kasat mata.
Bukan papa yang saya tahu dan rasakan era pemerintahannya.
Bukan papa yang saya alami kasih sayangnya.

Tapi merasakan sepenuhnya apa yang papa rasakan,
ketika menjadi papa, terutama, menjadi papa saya.

Dari situ mungkin,
saya akan bisa belajar,
mengerti latar belakang pemikiran papa,
memahami keputusan papa,
menghormati limpahan sayang yang diberikan;

lalu mungkin,
pada momen yang bersamaan,

papa bisa merasuk ke dalam saya,

berjalan di atas sepatu biru yang saya gunakan,
menyelongsongkan tangan ke kemeja garis lengan panjang yang saya pakai,
memasang kaos kaki,
bercermin beberapa detik,
mengucap salam sampai jumpa nanti malam pada pelor dan nona hidung turki,
merasakan menjadi saya, bernafas menjadi saya.

dan memahami,
kenapa saya sayang sekali pada mereka.

Satu koin pa,
dua sisi.

Mantra

97a774077bd154d2deca807b8c39cb2c

If you can’t explain it to a six year old, you don’t understand it yourself. — Albert Einstein.

Dear self,

I want to love you,
more than this,
and those past years.

But i can’t.

You are a trap.

You trap my soul into this body.
And i don’t know why.
Why you so cruel for not letting me out?

Dear self,

I try to love you,
more than ever,
like what i did these past years.

But it’s fake.

You’re not me,
i’m not you.
Who are you?
Why did you hide me so far away inside of you?

Screw you.

Dear self,

look at that eyes,
belong to a brownish dog,
your dog,
and hers..
like your child
and hers..

what did that puppy eyes said to you?

It said “i love you daddy..”

and, what did that child eyes said to me?

It said “i love you so much daddy..”

Enough said.

I probably not you,
you probably not me.
We are trapped together,
and we hate each other,
but can you,
can i,
try to hang on,
till November?

Dog, in reverse alphabetical is god.. is it?

Menikah*

14422660__photo_a9dKPBo_700b_jpg

This country-right-or-wrong business is getting a little out-of-date.. History is moving pretty quickly these days and the heroes and villains keep on changing parts.- Ian Fleming.

Beberapa hari yang lalu, saya berpikir tentang cara menikah di Indonesia.

Sempat saya sedikit bertanya-tanya kepada mereka yang sudah menikah.
Menikah itu bagaimana?
Prosesnya lama?
Aturan mainnya apa saja?

Lupa saya tanyakan,
menikah itu apa.
Basic, tapi vital dan fatal kalau salah pengertian.

Beberapa hal yang saya temukan dari interview alakadarnya,
menikah di Indonesia terutama, itu sangat susah sebenarnya.
Beruntunglah yang sudah menikah,
tapi, apakah mereka merasa beruntung?
Pertanyaan, pernyataan, dibolak balik demi kontemplasi.

Menikah di Indonesia itu,
harus beda jenis kelamin,
demi reproduksi dan norma agama,
dan syarat menjadi keluarga berencana.
Kalau tidak bisa direncanakan, berarti keluarga tidak berencana.
Proyek tanpa rencana itu sebagian besar gagal,
jadi ini mungkin semacam antisipasi dari kegagalan pernikahan.
*ngawur*

Menikah di Indonesia itu,
harus seagama,
supaya gampang beribadah bersama,
supaya tidak ribut saat anak memilih agama nantinya,
karena biasanya anak nurut saja sama cantuman agama di raport sekolah,
dibawa bawa sampai bikin KTP.
Supaya ibadah, supaya diterima mudah oleh badan agamanya,
supaya sah,
nah ini.
Kalau tidak di sahkan, terus bagaimana?
ya rancu,
tidak sah, tapi legal.
Bingung?
sama.

Menikah di Indonesia itu,
harus perhatikan suku bangsa.
Kalau bisa ya jawa sama jawa,
batak sama batak, cina sama cina,
kalau enggak?
multikultur?
ribet.
Keluarganya menerima bagaimana?
nanti anaknya sipit sebelah?
nanti anaknya item putih,
atau nanti anaknya medok jawa tapi ngomong belakangnya pakai ‘Bah!’;
bingung.

Menikah di Indonesia itu,
harus punya duit.
Buat mahar,
buat bayar resepsi,
buat foto prewed yang keren,
buat beli rumah biar bisa langsung bikin anak di dapur secara open minded,
buat beli mobil, ya biar gak naek motor aja,
itu semua belum dijumlah lagi dengan : buat honeymoon (minimal ke Bali, biar sah honeymoon).
Mahal sepertinya.
Karena kalau sederhana nanti dikira gak mampu sama lingkungan.
Berat. Nanti jadi omongan.

Menikah di Indonesia itu,
harus subur baik sperma maupun ovarium.
Karena kita tidak akan pernah tahu kapan ditanya :
‘lho.. belum punya anak, udah berapa lama nikah?’
Kalau tidak subur,
maka ada beberapa alternatif yang mengarah ke ‘yang penting punya anak’;
misal, berobat ke dokter, berobat ke dukun,
bayi tabung, adopsi, dan lain-lain,
padahal, menikah tanpa anak, belum masuk kategori keluarga tidak bahagia.
Dan tidak boleh toh trial dulu kesuburannya sebelum sah?
Anak is a part of a life gift,
should we push it like that?

Menikah di Indonesia itu,
cinta nomer sekian.
Kalo sudah beda alat sex, seiman, mapan, ganteng, ayu, ningrat, keluarga berada,
bisa jamin bahagia, bisa jamin gak selingkuh, bisa jamin gak mengecewakan,
bisa menghidupi, bisa menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anaknya kelak,
(dan banyak lagi kategori yang kalau dipikir-pikir,
apa iya ada yang bisa jamin?)
keluarga rata-rata akan setuju saja.

Saya percaya,
Life is a chance,
to be a soul that you supposed to be.

Pertanyaannya,
what kind of soul are you? *dijawab : mio soul..*

Menikah di Indonesia itu ruwet sepertinya.
Tapi yang sudah menikah-pun, kadang pengen cerai,
kadang pengen menikah dua kali.

; And your point is?

My point is, sekedar pernyataan iri sebenarnya,
kepada yang bisa menikah sah, legal, akurat,
di Indonesia.
Dan sekedar usul,
bagaimana kalau di akhir buku nikah,
kemudian dicantumkan tanggal pisah?
Pisah mati, pisah cerai?
alasan pisah, dan skoring,
jadi nanti bisa ditarik historinya,
dan bisa jadi referensi bagi next user.

*dianggep sales tracking*
*angkat pundak*

* : Tulisan ini ngaco *sumpah dah*, mohon diabaikan. Tapi memang, menikah itu terms and condition applynya wuaakeh tenan masbro.

Tiga

Tags

,

tumblr_nd70wvu7Qy1sm5cgbo1_500

Anyone can be a father, but it takes someone special to be a dad, and that’s why I call you dad, because you are so special to me. You taught me the game and you taught me how to play it right.- Wade Boggs.

Untuk yang merasa punya segalanya;
perlu diketahui bahwa ada sumber yang terbatas.
Ke-absolutan waktu.

Hari ini,
saya belajar dari peristiwa kemarin,
bahwa ada waktu yang tidak bisa diputar kembali,
ada waktu yang tidak bisa digantikan, dihapus, diulang, diolah,
maupun dipercepat ke depan.
Hidup bukan kaset dvd re-write-able.

Dari papa saya,
orang yang sama yang mengajari saya untuk berjalan,
main badminton, catur, dan merokok dengan fasih,
saya belajar bahwa hidup bukan sekedar memenuhi keinginan.
Mirip buddhis, papa saya yang taat kepada salib,
selalu membatasi keinginan dia, menekan keinginan,
mengutamakan kebutuhan.

Bukan, saya bukan sedang mempropagandakan kesempurnaan papa saya.
Sekedar ingat.
Sekedar berbagi.

Saya rasa cukup sudah hidup saya saya kacaukan sendiri.

Saya kacaukan dengan dua tangan saya,
dua kaki saya,
satu mulut saya,
dan dua mata saya.
Mirip lagu anak-anak, dua mata saya hidung saya satu..

Seringkali,
saya sekarang ini punya momen kontemplasi.
Untuk sekedar diam sendiri,
merenung saja.

Saya yakin, karena saya manusia,
saya banyak salah.
Dan karena saya salah-salah-salah yang saya kumpulkan banyak itu,
saya perlu untuk direhabilitasikan,
oleh waktu.

Waktu yang terbatas.
Sebelum semuanya terlambat.
Sebelum apa yang saya usahakan jadi sia-sia.
Sebelum saya cuma bisa berucap maaf pada udara kosong, yang saya harap mengantar pesan ke surga.
Atau sebaliknya.

Saya harap,
saya dimaafkan.

Mulut saya akan lebih banyak diam,
mata saya akan lebih banyak melihat, tapi tidak liar,
telinga saya akan mendengar, mendengar sampai ke sela jeda kata,
tangan saya akan siap membantu,
kaki saya akan siap melangkah,
saya akan hadir.

Saya akan mengurangi membagi konsentrasi;
ketika bersama pelor, saya akan fokus kepada pelor.
ketika bersama nona hidung turki, saya akan fokus dalam waktu itu,
ketika saya harus sendiri, saya akan sendiri.

Saya mau belajar,
dari papa saya,
yang tidak pernah memainkan handphone sewaktu bicara dan menatap mata saya.
Lekat.

Dua

Tags

, , , ,

tumblr_nge1d7donf1rqrgswo1_500

It is not flesh and blood but the heart which makes us fathers and sons. – Johann Schiller.

Ada satu kalimat klise yang seringkali sekarang dipakai sebagai bahan gurauan;
‘apa sih yang enggak buat kamu..?’;
dan biasanya diakhiri dengan entah senyum jahil, atau senyum ngarep.

Buat saya,
yang kadang suka njelimet dengan otak sendiri,
kalimat itu sekarang ini lebih serius.
Bukan karena saya sekarang susah dibecandain,
kaya fans MU kemaren-kemaren jaman sering-seringnya kalah..
(kemudian disikat fans MU).

Hanya saja,
kadang ada satu titik di hidup kita,
dimana kita merasa belum memberikan yang terbaik.
Apa yang enggak buat kamu?
Memang apa yang iya?

Tulisan ini hadir dalam rangka mencari esensi dari kalimat itu,
yang kemudian saya flashback kepada jalur hidup saya;
dalam korelasinya dengan saya sebagai anak papa saya.
Hebat ya bahasanya. Sangat taktikal.
….

Apa yang enggak buat papa saya?
Mungkin kalimat itu akan lebih pas kalau saya ganti,
Apa yang iya buat papa saya?

Keinginan papa saya supaya saya terima saja dulu PMDK dan jadi dokter?
tidak dilakukan.
Saya malah memilih jurusan Aksiseksyur Arsitektur.

Harapan papa saya supaya punya anak yang hipster, kemana-mana naik vespa?
Tidak dilakukan, saya lebih senang naik Honda Grand,
irit, hemat, model pasaran, bagian kunci sering dol, dan gampang dicolong.

Asumsi papa saya bahwa setelah lulus kuliah sebagai Arsitek saya akan terkenal, tajir, kaya raya, sukses nenteng gulungan kertas gambar dan membangun Indonesia?
Tidak terjadi.
Saya jadi bagian dari tim penjualan. Memang merancang, membuat time schedule, memperkirakan budget dan sebagainya, tapi bukan untuk bangunan, apalagi candi.
Sukses?
Dalam parameter saya, sepertinya belum.
Bahkan pernah saya jatuh sejatuh-jatuhnya. Dan rumah kembali menjadi tempat persembunyian saya.
Selayaknya cancerian sejati, sembunyi kalau susah, nampak batang hidung untuk berbagi ceria dan kesenangan dengan teman.

Satu-satunya yang sejalan adalah,
keinginan papa saya supaya anaknya terus berdoa.
Kata dia dulu, bercita-citalah supaya kamu bijak seperti Salomo,
dan jadi pemenang seperti Daud.
Sampai hari ini, masih saya bawa dalam doa.

Soal garis hidup saya yang kesana-kemari,
masih dalam proses saya benahi satu-persatu.
Saya percaya, dan saya jalani, dan saya diam tidak banyak mengeluh.
Saya cuma yakin, orang kerja, orang jujur, orang yang tidak sombong,
orang yang menjaga api kasih dalam hatinya,
suatu saat nanti,
pasti jadi sumber berkat.

Hari ini,
hari kedua saya kangen papa saya.
Saya tulis dalam bentuk blog, karena kalau saya teriakkan nama dia lagi di dalam mobil sejalan saya pulang, ada kemungkinan orang menganggap saya kurang waras.

Saya kangen papa saya,
sampai-sampai melihat fotonya saja saya tidak sanggup.

Satu

Tags

, ,

tumblr_mwvjy55KDJ1r0clmjo1_1280

“So, this is my life. And I want you to know that I am both happy and sad and I’m still trying to figure out how that could be.” ― Stephen Chbosky, The Perks of Being a Wallflower.

Menulis itu terapi.

Sekedar mengungkapkan apa yang ada di kepala, dan hati,
ke dalam bentuk barisan kalimat,
yang mungkin suatu saat nanti, bila dibaca kembali,
bisa menjadi pelajaran, pengingat,
atau sekedar membawa efek melankolia.

Satu kalimat yang tadi malam saya ingat sepanjang perjalanan saya menuju tidur;
‘jika waktu dapat diputar..’

Jika waktu dapat diputar,
saya ingin kembali ke dua puluh lima tahun lalu.
Menjadi saya yang berusia tujuh tahun.
Kelas dua SD.

Berangkat pagi, pulang siang.
Bukan demi angka bagus di rapor, karena toh saya pun waktu itu nampaknya tidak peduli dengan barisan angka delapan di rapor.
Tapi demi uang jajan, lima ratus perak, yang kemudian dibelikan kartu Dragon Ball.

Jika waktu dapat diputar,
dan saya kembali berusia tujuh tahun,
saya ingin memeluk papa saya,
meyakinkan dia bahwa saya sayang sekali kepadanya.
Lalu hidup dengan pelajaran yang sudah saya bawa sampai dengan saat ini,
menghindari ‘lubang-lubang’ yang kadang saya ‘perdalam’ sendiri.
Menjalani hidup dengan baik dan tidak sembrono.

Bottomline-nya adalah,
mungkin saya tidak bisa menjadi seperti apa yang menjadi harapan dari papa,
apa yang sudah terjadi, biarlah menjadi pelajaran hidup untuk saya.
Tapi satu yang sekarang terjadi di hidup saya,
saya lebih sabar, jauh lebih sabar.
Lebih pemaaf.
Hati saya lebih diam.
Kepala saya tidak terlalu banyak tuntutan.

Kamu, pa..
Semoga bisa melihat dari atas sana.
dan kalaupun hidup setelah mati adalah musna.
Mudah-mudahan cukup,
cukup maaf dari papa untuk saya,
cukup maaf dari saya kepada papa,
Faktanya kita berdua, pernah,
dan akan selalu,
punya kasih abadi, ayah dan anak,
selamanya.