Menuju Satu

Tags

, , ,

tumblr_mzxc9dHxpe1ronehbo1_1280

“When sadness was the sea, you were the one that taught me to swim”
Ian Thomas, I Wrote This For You.

Ada rasa syukur yang diam-diam aku ungkapkan tanpa bahasa.
Ada rasa terimakasih yang aku ungkap dalam doa.
Ada rasa cinta yang tak bisa lagi aku tampung;
meluap penuh; meluber ke lingkaran dunia.

Ada kamu yang kembali.
Ada kita yang satu lagi.

Kamu,
serupa sumbu pada globe.
Membuat tegak semua semangat untuk bertahan melawan kerasnya dunia.
Dunia yang sebentar indah, sebentar penuh edisi uji coba.
Dunia yang seolah ingin merebus kita,
menghancurkan, dan membuat kita auto imun akan harapan.
Kamu,
membuat aku,
menjadi sosok yang menyala.

Dalam malam yang kunanti,
karena disana adalah waktunya kita berbagi;
aku melebur semua hati,
menyajikannya kepada kamu.
Kamu,
yang juga melebur semua hati,
dan menjadikan keduanya itu satu.

Ada rasa syukur yang aku ungkap diam-diam,
dalam sapaan ‘hey sayang..’,
ada cinta yang terlepas diudara,
untuk dilempar jauh sampai ke Cikarang.

Denpasar jadi saksi,
bahwa terkadang,
ada rindu yang memang harus tertahan,
demi perjumpaan di bulan depan.

Aku.
Kangen.
Kamu.
Nona hidung Turki.
*cubit hidung*

Empat Belas, Satu, Dua Puluh

Tags

, , , , , ,

tumblr_nglc755zDb1rqrgswo1_500

I love you. I am who I am because of you. You are every reason, every hope, and every dream I’ve ever had, and no matter what happens to us in the future, everyday we are together is the greatest day of my life. I will always be yours. ― Nicholas Sparks.

Pagi ini Denpasar hujan.

Gerimis yang dimulai dari semalam,
berubah menjadi air langit yang turun lebih deras,
mulai dari jam enam,
lalu berhenti tiba-tiba di jam sembilan,
matahari terang,
dan langit mulai berubah warna.

Pagi ini saya duduk berdua dengan Pelor,
di ambang pintu, menatap halaman belakang yang basah.

Saya ingin kembali ke setahun dua bulan satu hari dan dua puluh jam lalu,
sejak pukul dua empat puluh tiga tadi pagi.

Meredam cinta,
sama sulitnya dengan menyembuhkan luka.

Saya ingat,
kepada gadis yang dulu melangkah masuk ke tempat duduk di sudut Ta Wan,
menyalami saya, dan mengucapkan namanya dengan sangat pelan.

Saya ingat apa yang saya rasa waktu itu,
ada ketertarikan dan rasa suka,
yang tumbuh dengan waktu,
menjadi sayang,
menjadi cinta,
lalu saya terbenam oleh kesalahan dan egoisme saya sendiri,
kebodohan saya, ketidak pekaan saya,
dan cinta yang tumbuh menjadi kasih,
sudah tumbuh dalam tanah yang retak,
lalu dipaksa gugur.

Saya ingat rasanya,
ketika pertama kita jatuh cinta.

Dan masih terus bergerak dan berdetak,
mencari air di sela-sela,
mencoba merapatkan tanah yang retak,
menjadi tanah subur yang layak untuk jadi pondasi.

Kamu,
adalah apa yang saya cari,
dan apa yang saya perlu,
dan satu yang tersayang,
yang terkasih.

Masa lalu saya,
adalah apa yang ingin saya perbaiki,
saya sudah tutup rapat, walau itupun perlu waktu.

Perlu waktu untuk membuat saya tahu,
bahwa dibanding semua masa lalu saya,
kamu yang terutama.

Pagi ini Denpasar hujan,
semoga doa dan harapan tentang cinta yang kembali dan lebih kuat,
yang diam-diam saya dan Pelor gaungkan ke atas sana,
menemui jawab di Cikarang.

Amin.

King Solomon

Tags

, , , , , , ,

tumblr_n3yckyA0v51qearggo1_500

“Why didn’t he say goodbye? I gave myself a bruise. Why didn’t he say ‘I love you’?” ― Jonathan Safran Foer, Extremely Loud and Incredibly Close.

20 Oktober 2014

Pagi-pagi sekali, kami berdua berkemas;
mengepak baju seperlunya, keperluan pelor, dan siap berangkat ke Semarang.
Saya menyetir. Nona hidung turki di sebelah memangku pelor.
Berpacu dari Bogor ke Semarang,
dengan kabar papa saya sakit, opname, dan sudah di ICU.

Pukul satu siang,
di Tol cipularang,
saya ditelfon adik saya,
supaya bicara dengan papa.
Saya meminta dia sembuh,
saya bilang saya akan jemput dia pulang ke rumah,
saya bilang saya sayang dia.

Pukul dua siang,
saya menelfon ke mama,
karena tidak ada kabar lagi bagaimana perkembangannya.;
dan mendengar adik saya meraung,
berkata bahwa papa sudah kembali ke rumah Bapa.

Dua siang itu,
kami berhenti di Cipularang.
Saya merasa dunia berhenti.
Sudah selesai.

Perjalanan selanjutnya,
nona hidung turki yang menyetir,
sambil menguatkan saya,
berkata bahwa papa saya sudah di rumah Bapa,
di tempat yang paling indah,
sudah sempurna disana,
sudah bahagia.
Dan saya terus bertanya;
apakah ini nyata..

Pukul enam sore,
kami tiba di Semarang, saya hilang kendali;
saya ingin loncat memeluk papa saya,
yang terbaring di ruang simpan jenazah.
Orang sibuk menenangkan saya,
dan saya sibuk mencari papa saya yang dulu tangannya hangat.

23 Oktober 2014

Papa saya dikebumikan.
Setelah upacara penghiburan dan pelepasan,
tanpa acara pecah semangka seperti layaknya adat lama.

Mama dan adik saya di depan,
memangku foto dan salib.

Saya dan si bungsu, mengikuti mobil jenazah bersama dengan hampir tiga puluh mobil pengiring di belakang.

Hari itu,
saya membacakan eulogy untuk papa saya.
Tulisan yang saya buat dalam kalut semalam sebelumnya.

Pertama kalinya,
saya membaca untuk papa,
selain membacakan bahan jamu dan fungsi akar-akaran;
selain ini-ibu-budi yang dulu sekali adalah bimbingan belajar dari dia.

Untuk saya,
papa adalah mercusuar.

Yang membawa kami pulang,
dimanapun kami berada.

Baik buruknya papa saya,
saya terima dan saya maafkan.
Dan saya harap, dia pun bisa demikian kepada saya.

Papa saya adalah orang yang tidak terlalu memanjakan anak dengan segala macam hiburan dan kesenangan.
Satu-satunya acara menonton yang pernah kami jalani,
adalah menonton sirkus.
Dan itu saja, sudah cukup.
Saya bahagia jadi anaknya.
Tanpa perlu liburan ke Bali tiap akhir catur wulan,
tanpa perlu baju baru tiap natal,
tanpa perlu melancong dan makan diluar tiap akhir pekan.

Untuk punya papa seperti dia,
saya bangga.

Dan kelak saya harap,
saya bisa membuat dia berkata,
untuk punya anak seperti kamu,
aku bangga.

Selamat jalan pa,
Tuhan sudah memanggil papa untuk disayang dan disempurnakan disana.
Beristirahat dengan tenang disana ya pa.
Banyak doa yang menghantar papa pulang ke rumah Bapa.

62 tahun yang papa punya,
Terimakasih Tuhan.
Dan lamanya waktu papa menjadi papa masing-masing dari kami,
suami dari mama, pacar abadinya, teman hidup selamanya untuk mama,
terimakasih pa,
papa sudah membahagiakan kami, seringkali dengan cara yang tidak kami duga.

Papa sudah memenuhi janji,
debu kembali menjadi debu.

Kami yang belum,
akan berjuang,
menjadi sebijak Salomo yang papa minta,
menjadi sekuat Daud,
menjadi sejujur Yunus.

I love you dad..
we love you.

Sampai maranatha pa,
kita ketemu lagi.

Half

Tags

,

tumblr_lxafl0PY7M1qmgknno1_500

“There’s no greater show on earth than observing human nature.”— Benny Bellamacina.

Katanya,
obat paling baik untuk menyembuhkan tekanan pikiran yang berlebihan adalah dengan membaginya kepada orang lain.
Beban akan terasa lebih ringan.
Demikian katanya.

Dengan kapasitas kepala yang demikian sempit,
saya membaginya kepada diri saya sendiri di masa depan.
Yes, i share those all to my future self.
Karena hanya dia yang bisa melihat semuanya dari sudut pandang saya sekarang dan saya besok.
Apakah saya yang sekarang ini benar?
ataukah saya yang sekarang ini sedang melangkah keliru.
Dia yang akan membagi kepada saya hasilnya.

Kalau hidup saya ini dibuat dalam bentuk timeline,
maka posting paling padat adalah sekitar tanggal 19 Oktober lalu,
sampai dengan seminggu kemudian.
Lalu jeda.
Lalu sibuk berantakan.
Lalu hening.
Lalu kacau.
Lalu meledak dari dalam.

Semacam timeline yang kalau dibaca mungkin isinya hal-hal yang harusnya dihindari supaya yang membaca tidak terpengaruh, dismotivasi, pahit terhadap lingkungan, ataupun mempertanyakan arti hidup, dan fungsi sebagai anak.

Secara singkat,
kalau diringkas,
mungkin pendek saja.
Berantakan.

Saya perlu saya yang tangguh.
Saya yang siap berjuang.
Bukan saya yang down; loyo; dan putar otak mencari arti kata ‘berbakti’.

Saya perlu menopang salib.
Dan menjadi saya yang kuat.
Bukan hanya untuk bertahan;
tapi untuk lari melaju ke depan.

Yang saya harapkan bisa sepakat dengan saya untuk merumuskan terminologi kata ‘love’ sebagai ‘acceptance’; ternyata tidak mufakat.

Saya yang menjelaskan,
mereka yang mendengar,
dan kami yang tidak sepakat.

Saya yang memberi sudut pandang,
bahwa kita bisa saja bilang kepada orang yang tidak punya tangan dan kaki;
“saya tahu rasanya, susah pasti ya, susah beraktivitas”;
tapi setahu-tahunya kamu,
kamu sesungguhnya tidak tahu,
karena kamu punya tangan, punya kaki.

Saya harus melepas benang kusut,
dengan sabar, dan tekun.
Urut, dan menjadikannya tetap utuh.

Godspeed.

di https://ohlife.com/timecapsule, kita bisa mengirim surat kepada our future self, yang nantinya akan dikirimkan pada tanggal yang telah kita tentukan sendiri ke alamat email yang kita cantumkan.

Evolve

Tags

, , , , , , ,

IMG-20140820-WA004

“Love is illogical, love had consequences—I did this to myself, and I should be able to take it.” — Marie Lu, Prodigy.

You know you’re liking someone;
when you hear their name;
a tiny crack in your lips are making a smiling curve;
even just a bit,
their name triggers some happy poison into your brain.

And i can’t find it with goldy.

Kami mengambil goldy dari sebuah shelter.
Dengan maksud baik,
ingin membagi kasih di rumah bersama dia.
Berusaha memberi yang terbaik.
Perhatian, nutrisi, game-time, sharing the live we had here.

Pemberi goldy mengatakan;
goldy bukan anjing yang stabil secara emosional.
Kita tidak tahu, darimana asal ketidak stabilan itu.
Bisa jadi dari manusia yang memelihara sebelum dia,
bisa jadi proses pada saat dia dijalan.

The thing is;
on the first day, goldy menggerang marah to almost every thing;
lalu tiba-tiba mendekati nona hidung turki dan mau dipegang;
lalu entah kenapa menggerang lagi dan menunjukkan kemarahan.

Second day at home;
early in the morning,
saya dan pelor di rumah.
Goldy di kamar.
Pelor saatnya makan;
saya pikir goldy baiknya makan.
I try to call him,
dia growling dan lari ke arah saya.
Pelor menghadang, and let herself got bitten by goldy,
pelor melawan, goldy menginjak kepala pelor.
and it rages me out.

Third day and fourth,
goldy being goldy,
yang kalau suka ya diem,
kalau gak suka ya growl then try to bite or showing his teeth with anger.

Fifth day,
kami mau cuci mobil di depan rumah,
thinking it was good mungking kalau pelor dan goldy di depan sekalian main.
Goldy kabur.
Lari ke taman bermain yang banyak anak kecil.
People getting panic.
Nona hidung turki mengejar, saya memasukkan pelor ke rumah,
karena pelor berusaha mengejar mereka.
Nona hidung turki got bitten.
Tangan kiri 2 luka dan 2 lebam, tangan kanan satu lebam lumayan besar.

Tapi kasih ibu,
or most likely, kasih perempuan memang gak ada habisnya.

Sudah digigit,
masih sayang setengah mati.

Tonight,
hari ke delapan goldy di rumah.
We share food, dalam arti makan bareng.
Nona hidung turki berusaha feeding them with hands.
Pelor santai kalau makan satu tangan bagi-bagi sama goldy.
Goldy gak santai.
He bit pelor, again.
I got so mad. I throw him bantal sofa.
Pelor duduk tiduran melingkar di dekat nona hidung turki,
licking my wife’s feet.

The thing is,
i dont feel safe around him.
Dan sekarang pelor bisa growling toward us.
Yang sebelumnya enggak pernah terjadi.
Pelor itu, pelor yang sebelum kenal goldy,
memang bandel, suka gigit-gigit semuanya,
tapi nurut.
Never growl.
Dan enggak gigit beneran.

Saya tidak ingin membesarkan pelor dengan ajaran yang demikian.
Saya ingin pelor tumbuh jadi anjing yang ramah kepada manusia.
Anjing yang bisa bersosialisasi dan tidak punya mental menyerang.
Dan sepertinya akan susah,
mengingat dia masih dalam umur tiga bulan,
yang kerjanya meniru dan belajar terus;
till she make her own personality.
Saya ingin pelor jadi anjing yang stabil.

Besok hari Minggu,
sedianya ada rencana untuk memulangkan goldy ke shelter.
Lima jam yang lalu, goldy baru saja menggigit pelor.
Satu jam yang lalu, nona hidung turki tanya ke saya,
; kita jadi mulangin goldy?
: ya.. kamu gak mau yah?
; iya, udah sayang sama dia..

Saya sayang pelor,
sampai ke level yang saya tidak ingin dia tumbuh dengan salah.
Saya baru saja ajak ngobrol pelor,
entah dia ngerti atau tidak..

Kalau goldy stay,
berarti nanti pelor yang balik ya nak,
ke tempat ci lina, (yang ngasih kami pelor),
disana ada mamanya pelor,
disana gak ada yang gigit pelor,
nanti pelor belajar jadi anjing yang baik.
Nanti papi jenguk pelor sesekali,
papi ajak main sama bawain snack stick rasa pisang kesukaan pelor.

Pelor nunduk-nunduk,
lalu tiduran.
Saya enggak ngerti, pelor paham apa yang saya bicarakan atau tidak.
Yang saya tahu,
rasanya sedih, hehe..

Saya brengsek,
saya pernah jahat,
dan mama saya masih sayang.
nona hidung turki juga.
Analoginya begitu yang dipakai ke goldy oleh nona hidung turki.
Yang saya kuatirkan,
kalau kami pulangkan goldy,
nona hidung turki akan jadi seperti ‘berkurang sayangnya’ barang 1% ke pelor,
and it shouldn’t happen.

Dan saya tidak ingin pelor tumbuh dengan salah.

Berat rasanya?
iya.
Tapi lebih baik begitu.

untuk pelor yang dewasa nanti.

Forêt de Bondy

Tags

, , , , , , , , ,

SONY DSC

“We can be laughed into silence for attempting to speak in praise of phenomena which we lack the right words to describe. We may censor ourselves before others have the chance to do so. We may not even notice that we have extinguished our own curiosity, just as we may forget we had something to say until we find someone who is willing to hear it.” ― Alain de Botton, The Architecture of Happiness.

Day 21: He or she sees their crush in a library. describe the incident.

Ada yang menemukan ketenangan di dalam sajadah;
ada yang menemukannya di dalam kerumunan manusia, diantara sejuta lampu gemerlap kota Jakarta.
Saya menemukannya di dalam buku.

Seperti seolah pergi ke dunia yang ditawarkan kepada saya;
tiap dialog, alur dan konspirasi dari kata-kata yang disusun untuk menghisap saya masuk dan lenyap dalam dunia setebal yang bisa kita kira-kira.

Berjalan mengelilingi alur buku yang berjejer;
disusun secara alfabetik,
boleh saja dibilang saya perfeksionis soal ini;
tapi ketika ada yang tersusun tidak pada tempatnya,
ada kecenderungan dari tangan saya untuk memindahkannya ke posisi yang seharusnya.

Ada kebahagiaan kecil yang ditawarkan dari tiap buku;
ada persahabatan kecil antara kita dengan tokoh yang kita kejar ceritanya di buku itu;
ada banyak pengalaman yang mereka alami, bisa fiksi, bisa nyata;
yang kemudian kita pelajari tanpa perlu kita alami.
Asumsi akan selalu ada; dan itu terserah kita,
yang jadi masalah adalah cara baca kita,
sudah benar?

Saya memikirkan itu sepanjang lorong novel sci-fi di toko buku yang dengan menyebut huruf awalnya saja semua makhluk Indonesia bisa menebak namanya.
Selama kurang lebih lima detik mata saya bertemu dengan mata perempuan itu.
Yang berjalan mengarah ke saya,
dan kira-kira dalam waktu satu menit,
dia akan sampai kemari.

Saya harus bagaimana?
senyum?
membenahi kemeja?
merapikan kepribadian?

Satu menit sudah selesai,
perempuan itu sekarang berjarak kurang dari lima puluh centimeter.
Jarak yang semula sebelum Indonesia menjadi alay adalah kategori jarak intim;
jarak yang dekat; jarak santun yang seolah tanpa jarak.

Tiga puluh centimeter.

Duapuluh centimeter.

Dan nol.

Saya menggandeng tangannya.
Dia melihat saya,
menggandeng saya,
: ‘sayang, udah dapet bukunya?’
; ‘iya ini, udah..’
: ‘mau pulang?’
; ‘ayo..’

Perempuan yang bisa jadi masuk kategori agak-kurang-suka-baca ini;
sudah bersama saya enam bulan dengan status pacar.
Nona hidung turki.
Perempuan yang dulu harus saya kejar sepanjang BSD-Cikarang,
sekarang ada disebelah saya,
dengan jarak kurang dari tiga puluh centimeter,
kurang dari panjang penggaris besi ala anak SD yang either perfeksionis atau tukang bully.

Saya menemukan cinta didalam dia.
Disini,
disana,
kalau dinyanyikan menyerupai lagu anak anak soal naik ke puncak gunung.
Kekanak-kanakan.

Tapi begitulah cinta,
yang kata agnes monika tanpa logika,
yang kata patkay deritanya tiada akhir,
yang kata saya ada dalam dia.

Sayangnya,
Cinta yang begini,
belum cukup untuk jadi modal nikah ditayangkan di tivi.

Cinta yang begini,
cuma cukup dinikmati berdua.

Sedamai yang kami bisa,
sedalam yang kami punya.
demi Indonesia yang lebih baik,
bukan begitu saudara?

PS : i started to continuing what i should’ve done months before, finishing this 30 days of writing challenge. 🙂
FORÊT DE BONDY : Lieu de mauvaise fréquentation (Place of poor attendance)

To nona hidung turki :
terimakasih ya.. for staying, untuk tetap bersama saya ketika kabel saya kusut semua.

Nona Hiccups

Tags

, , , , , , ,

IMG_20140816_121426

As I see it, you are living with something that you keep hidden deep inside.
Something heavy. I felt it from the first time I met you.
You have a strong gaze, as if you have made up your mind about something.

To tell you the truth,
I myself carry such things around inside.
Heavy things.

That is how I can see it in you.
Haruki Murakami, IQ84

Bibir saya luka,
seperti bekas ‘ribut’ dengan orang;
terkesan gahar dan agak preman.
Pelakunya?
Pelor via cipokan mesra.
hehehe..

Bagi saya,
pelor, bocah yang ada di foto itu,
adalah cinta pada pandangan pertama.

Proses adopsi yang mudah dari seorang kawan kerja,
hari pertama kami jemput, saya dan nona hidung turki,
excited sekali.
Persiapkan kandang bersih-bersih,
lalu kemudian kami bawa beli perlengkapan dia di sebuah petshop;
mainan; makanan; snack; parfum; boneka;
dan perlengkapan lain.

Kami adopsi dia di usia tujuh minggu.
Sudah hampir dua bulan bersama,
badannya semakin tinggi sedikit,
dan tetap bulat.
Tidak akan ada laki-laki yang kuat lihat pelor jalan.
Pantatnya itu..
Samoyed aja pasrah..
wadoh.. *kemudian dipanggil kak seto*

Sesuai namanya,
pelor; nempel molor-kalau ada yang kurang jelas;
hobinya tidur. kurang hobi ngegonggong.
Tumbuh makin besar, hobinya ditambah lari-lari,
gigit-gigit apapun yang di depan dia;
gulat dengan boneka doraemon kepunyaan nona hidung turki,
ngaca dan curhat di kaca;
selfie; iya, selfie..
tidur bersama boneka anjing kesayangan dia,
ngigau pas tidur kalau habis dimarahi;
yang kadang suka cegukan;
ngulet sambil tiduran;
makan baso, tomat, wortel, dan ayam dan roti dan minum es krim tentunya,
dan..
mengantar kami kerja lewat pandangan sedih dibalik jendela.

Kalau sayang adalah bahagia melihat yang tersayang senang,
dan sedih melihat yang tersayang susah,
maka saya bisa bilang bahwa saya sayang dia.
Si pelor.
Pelaku bekas luka macam jagoan di bibir saya,
dan lawan main gulat ala WWF smackdown saya.

Saya sadari,
pelor bukan anjing yang serba hebat,
yang bisa disuruh lari-tiarap-guling guling-koprol dan semacamnya;
yang pemenang kontes.
Pelor baru bisa sit-lempar tangkap-dan kiss mami papi.
Pelor gigit-gigit.
Tapi pelor sayang saya;
ketika nona hidung turki tugas ke luar kota,
saya, yang kadang tukang parno, setia diiringi dia kemanapun saya melangkah.
Dan dia sayang nona hidung turki,
sayang sekali malah,
sampai-sampai baju nona hidung turki dibawa tidur dan dijadikan alas kepala.

Pelor bukan anjing istimewa versi top breeder yang pake stambum,
tapi buat saya,
bulu pelor yang halus sekali,
dan cara dia ‘menjagai’ kami semampu dia,
itu sudah istimewa.

Saya jatuh cinta pada pandangan pertama lagi,
setelah kepada nona hidung turki,
lalu kepada nona pelor yang besok vaksin ketiga;
yang sekarang sedang tidur didekat bonekanya.

Saya sayang pelor;
sebegininya;
dan saya tidak tahu bagaimana bisa terjadi.

Sayang tidak bisa dipaksakan;
sayang cuma bisa dirasakan.

Pelor bukan peliharaan,
karena dia bukan wanita idaman lain saya
*ditoyor*
pelor adalah bagian dari saya,
yang akan langsung duduk depan saya kalau saya sedih;
dan duduk di samping saya sambil menunggui nona hidung turki pulang;
punggung ketemu punggung;
romantis yah..

*kemudian foto berdua*

Vice Versa

Tags

, , , , , , , , ,

tumblr_mtp4e54FwS1r0clmjo1_1280

“If you don’t know what you want,” the doorman said, “you end up with a lot you don’t.” — Chuck Palahniuk, Fight Club.

Saya hidup di kota yang punya sejuta cerita tiap harinya,
tapi saya bisu.
Saya tidak tahu harus cerita apa;
bicara apa;
entah karena apa.

Katanya,
hidup kamu, takdir kamu, nasib kamu,
kamu yang tulis; kamu yang buat; kamu yang sempurnakan.
Itu betul? atau isapan jempol?

Quick recap;
setelah si Pelor,
anjing kecil umur 3 bulan yang kami adopsi dari salah satu teman;
kami adopsi anjing kedua.
Goldy.
dari shelter.
a dog with a bad tempered.
growl. not so friendly. do what ever he wants.
but my nona hidung turki love him.
so..
goldy have a new home here;
with a new family.

Kembali soal hidup.
Hidup yang dipertanyakan banyak orang apa gunanya.
Hidup yang kadang dijadikan alasan agama supaya kita ina inu ini itu.
Hidup yang kadang dibawa ke dukun untuk dipermak lewat cara-cara luar biasa tolol.
Hidup yang kadang dibawa enjoy aja, kalau kata iklan rokok.
Hidup yang isapan jempolnya; kita atur sendiri.
But it’s not.

Saya,
kini ada di garis perantara,
antara mempertahankan kewarasan karena cinta orang-orang disekitar saya,
dan mengikuti alur depresi yang makin lama seretannya makin kuat.
Secara emosional, saya lebih mudah merasa.
merasa apa saja yang buruk, kecuali cicipan rasa sukses.
Rasa sukses yang dulu pernah ada tiap hari di hidup saya.
Saya sekarang pemalas nomor 1 di dunia mungkin.
Otak saya seperti buntu.
jangan bicara hati,
kalau otak buntu, hati itu tidak banyak membantu.

Untung ada nona hidung turki;
untung ada mama saya;
untuk ada keluarga saya;
untung ada pelor.

Kalau dinasehati secara agama;
pasti akan dibilang seperti ini,
kamu itu masih diberi hidup; masih ada kesempatan lagi;
masih diberkati kesehatan; masih diberi ini, itu, anu, banyak.
Kira-kira begitu.

Bukan saya bilang itu salah.
Tapi untuk orang yang dalam kondisi satu kaki hampir kecemplung jurang;
nasehat itu limbung.

Saya ingin memberi yang terbaik untuk mereka yang tersayang;
dalam arti mencukupi kebutuhan,
mengusahakan yang terbaik,
bahkan untuk ini, saya tidak tahu harus mulai darimana.

Bingung?
saya juga.

Menulis maksud hati saja berantakan.
Apalagi menggariskan nasib.

Belakangan ini saya punya banyak ketakutan.
Ketakutan-ketakutan yang entah kenapa ikut terus dengan kepala saya.
Saya merasa jadi manusia gagal;
jadi laki-laki idiot;
jadi orang yang kurang berguna selain menghabiskan oksigen di bumi;
makan; minum; dan buang air.
Saya tidak punya karya.
Tidak ada keberhasilan.
invalid.

Setiap kali saya begini,
saya selalu ingatkan diri saya,
ambil babysteps.. satu demi satu;
pikirkan berurut, jangan grabak grubuk.
Tapi saya merasa dikejar waktu,
dikejar masa depan,
dikejar bayangan bahwa kalau saya gagal terus, maka akan….

Saya berusaha jadi manusia beriman;
dengan meyakini bahwa Tuhan sedang menulis kelanjutan cerita saya dengan lebih indah; bahwa Dia yang mencipta saya sedang berkreasi dengan garis nasib lengkung ke bawah sebentar lalu kurvanya akan naik ke atas melampaui yang sudah lalu;
tapi sebesar apapun saya berusaha,
nalar saya memblokade.
Seperti tidak mengijinkan saya beriman.
Seperti menantang, kamu itu bisa apa sekarang?

Tanggal sepuluh kemarin,
kami anniversary.
I give nothing but a video that i made for her.
It says that i love her at most;
tapi secara nyata, saya tidak bisa memberikan apapun.
rasanya seperti ‘omong doang lu’, seperti menebar janji palsu.
Padahal hati saya bicara cinta, tapi seolah tingkah saya yang tidak bisa memberi apapun itu berkata saya tidak cinta. Bodoh.

Pikiran-pikiran itu,
sedikit banyak membuat saya menjadi lebih pahit dalam menjawab,
seperti seolah merasa terancam 24×7;
seperti saya takut bahwa kondisi ini tidak akan berbalik dengan sempurna;
setakut saya bahwa nona hidung turki akan tertarik pada orang lain yang secara karir dan finansial dan wajah dan lain-lain lebih excell daripada saya;
setakut saya membayangkan hari depan.

Saya berusaha menguatkan pikiran dan iman,
mengutip status seorang teman yang juga kakak bagi saya;
Tuhan tidak akan memberi pencobaan yang lebih dari kemampuan kita, masakan Tuhan berbohong?

Tiap ingat itu saya diam.
Tiap ingat kata-kata nona hidung turki tentang doa dia untuk saya,
saya diam.
Saya ingat,
bahwa masih ada yang saat ini mengasihi saya.
Dan itu luar biasa.
Di luar nalar.

Saya tulis ini sebagai peringatan,
bahwa saat ini,
sekarang,
saya ada di roda bawah,
dan rasanya luar biasa perih jendral.

Saya ingin maju perang lagi.
Bertarung dengan dunia,
memperebutkan koin emas untuk dibawa pulang,
dan diserahkan ke mereka yang tersayang,
sebagai tanda cinta.

Saya ingin berperang lagi,
lalu menang.

Dan mungkin suatu saat nanti,
saya akan baca ini,
dan ingat,
diatas bukan berarti meninggi.
Diatas berarti siap memberi.

Spelling Time

Tags

, , , ,

tumblr_mwbg8kJOtf1qeo4xao1_500

You know how I see it? There’s always going to be bad stuff out there. But here’s the amazing thing- light trumps darkness, every time. You stick a candle into the dark, but you can’t stick the dark into the light. – Jodi Picoult, Change of Heart.

Saya punya beberapa list buku yang ingin saya baca.
Mungkin bisa dikategorikan sebagai perlu saya baca.
Waktunya belum ketemu. Belum jodoh dengan buku itu.

Kalau hidup saya dilihat dengan cara Tuhan membaca ‘recent update’ di timeline saya di buku hidup-mati yang ada di saku dia;
maka beginilah kira-kira:

Sekarang kami berdua punya anggota rumah yang baru.
A puppy. Campuran antara chow-chow dan golden retriever.
Sporty as hell, and being moody as she can.
Berhubung dia adalah mix, maka akan sulit sekali ditebak bagaimana sifat original dia. Apakah dia akan gampang diajari? apakah dia akan cerewet?
Dalam dua minggu terakhir, tanda-tandanya adalah dia tidak cerewet.
Sangat melindungi kami berdua terhadap orang asing.
Moody. Do things menurut waktunya dia.
Bossy. Biting everything. dan bandel.
But she’s cute.
Soft furry ball. hehehe..
Bentuknya gendut, cokelat. Bulunya lembut.
Tidur bawa boneka. lalu bonekanya ditindih.
Playful, senang berada diantara manusia.
Manja.

Mungkin kalau dia perempuan dalam bentuk manusia,
cantik tapi agak sedikit tomboy.

My life in a highlight.
Job problem,
future planning issue,
love conflict, 
saraf tegang,
kaki kiri sakit,
pundak selalu kencang.

But you know what?

I got her. Nona hidung Turki;
Saya punya pacar saya,
saya punya pelor.. (the puppy),
saya punya adik-adik saya,
saya punya orang tua saya yang jauh di mata,
saya ada teman-teman yang bisa saya ajak tukar pikiran,
i got the things i basically need to survive, mentally.

And i got God.
I must not worry.
Spiritually, i have enough.

Self motivation.
Get out of the depression.
Be active,
smell the morning air,
feel the warm hug of my most loveable girlfriend,
touch pelor the fat furry ball,
read the books,
do the things that need to be done,

get out of this black hole.

Can i?

A La Folie

Tags

, , , , , , ,

tumblr_n5delhMajP1qzleu4o1_1280

We are not the same persons this year as last; nor are those we love. It is a happy chance if we, changing, continue to love a changed person. – William Somerset Maugham.

Hidup saya, bukan lagi sekedar hidup saya.
Mungkin demikian juga dengan hidup kamu,
bukan sekedar hidup kamu.
Ada hidup orang-orang ‘dibalik layar’ yang menyebabkan kamu masih bertahan;
masih ingin bertahan hidup; masih berjuang;
atau malah mungkin menjadi penopang semangat hidup kamu.

Membahas hidup;
membahas cinta;
siapa yang bisa jabarkan dalam satu halaman saja?

Daridulu,
sudah banyak manusia berusaha mencari artinya, dari kata hidup, dan cinta;
sedikit yang menemukan dan memilikinya;
banyak yang memperjuangkannya.
Dengan mengambil milik orang lain; dengan berusaha sendiri;
dengan dibantu orang lain; banyak cara.
Sudah kamu temukan?

Beberapa kali dalam fase hidup kita,
ada momen yang membuat kita berpikir lebih dalam tentang sesuatu.
Kadang peristiwa-peristiwa penting (atau tidak terlalu penting) bisa jadi pemicunya.
Untuk saya,
itu adalah apa yang terjadi sejak saya pulang kampung.

Melihat secara dekat mereka yang saya sayang; keluarga.
Merasakan rindu yang susah ditebus kepada dia yang saya sayang; pacar.
Membebaskan diri sebentar dari apa yang wajib dan secara priviledge saya masih dipercaya; pekerjaan.
Menjauhkan diri dari hingar Jakarta dan isu ‘Bogor kan dingin‘; lol.
Datang ke kampung halaman orang tua; menjalin komunikasi yang sudah sekian tahun tidak ter-maintain dengan istimewa; sanak keluarga besar.

Manusia berubah.
Dari hari ke hari,
dari tahun ke tahun.
Manusia yang tidak berubah sama sekali, bebal.
Jagung di ladang saja bertumbuh.

Saya berubah,
demikian juga dengan orang tua saya,
demikian juga dengan adik-adik saya,
demikian juga dengan kamu yang tersayang, tercinta; kalau ikut versi pujangga.

Ketika saya ungkapkan saya sayang;
artinya saya lebih dari sekedar cinta.
Karena versi saya, cinta itu berharap dibuat skor nya satu sama.
Ada poin plus dari seseorang yang kamu kagumi, yang kamu ingini;
dan kata ‘sayang;, punya makna lebih dari sekedar itu.
It’s deeper.
Gak pake syarat dan ketentuan.

Saya, kamu,
bisa dengan gampang akan cinta kepada dia yang cantiknya naujubilah, gantengnya naujubilah, orang yang baik, orang yang memperlakukan kamu dengan istimewa, orang yang nilainya plus dan jarang minus di depan kamu.
You know what?
Sayang itu, mencintai dalam kekurangan.

Tapi sayang juga tidak buta.
Harusnya masih diiringi dengan rasio dan pertimbangan matang.
Karena untuk merealisasikan, mewujudkan, mengungkapkan dengan tindakan;
itu semua harusnya selektif.

Saya berubah; kamu berubah;
kita bisa masih saling sayang;
itu saja buat saya hal yang membahagiakan.

Karena di tahun 2014 ini,
semakin banyak orang memanggil orang lain dengan ‘sayang’ secara enteng;
si enteng bibir makin bertebaran di muka bumi;
bilang sayang; bilang kangen; bilang cinta;
tanpa realisasi; tanpa bukti aktual; karena sekedar pengen;
karena sekedar iseng.
Which is fucked up.
Meaningless.

Jadi mari,
setelah kembali fitri,
kita kembalikan kata ‘sayang’ ke fitrahnya *berasa dai*

Kembalikan ‘sayang’;
yang cukup punya arti dalam,
yang meyakinkan mereka yang tertuju dalam kata ‘sayang’ itu;
tanpa harus dieja dengan kalimat : aku sayaaaaaaaaaaaaang bingits sama kamu..

kasian yang bikin KBBI.
Ngerekapnya susah.
Sayang;
sayaang;
sayaaaang;
sayaaaaaaaaaaaang;
bingits..

*facepalm*

Note :
when i say i love you, aku sayang kamu, i mean it, from my every soul, from my every breath, from my every wounded life, to love you, to have you as you are, to be with you, as we both changed into a better person, as we improve, day by day, in His time.