Tags

, ,

enhanced-buzz-24366-1387647616-29

“I imagine a line, a white line, painted on the sand and on the ocean, from me to you.” ― Jonathan Safran Foer, Everything Is Illuminated.

Apa yang lebih menyenangkan dari ketidakharusan bangun pagi?

Ya, ketidakharusan bangun pagi,
ditambah dengan sesudah bangun pagi ada kopi dan rokok.
Tentu lengkap dengan edisi singkong rebus empuk,
atau roti bakar.

Apa yang lebih menggembirakan dari ketidakharusan bangun pagi,
sudah ada kopi, singkong rebus dan rokok?

Ya, ketidak harusan bangun pagi,
singkong rebus, kopi, rokok, ditambah dengan istri yang senyam senyum walaupun masih dalam daster tidur,
dan anak bangun dengan gembira tanpa ompol dan iritasi karena pipisnya sendiri.

Ada yang lebih lengkap dari itu?

Ada,
semuanya ditambah dengan penyedap rasa ala dunia.
Uang.

Uang,
menjadi passport, penyedap rasa, penambah selera hidup,
dan tentu tidak kalah,
menjadi sarana, prasarana,
bahkan untuk beberapa tipe manusia,
telah menjadi visi dan misi dalam hidup.
Baik dalam edisi jangka panjang, maupun jangka pendek.

Lalu,
jika sedang musim liburan,
tersedialah ketidakharusan bangun pagi,
singkong rebus, kopi, rokok, asbak, korek dan tetek bengeknya;
ditemani istri tersayang yang senyam senyum, menimang anak yang tidak sedang bergaul dengan iritasi urin,
dan punya uang 10 milyar,
kita bahagia?

Belum tentu.

Manusia seperti didesain susah bahagia.

Sudah dapat bonus tahunan; sudah dapat THR;
sudah punya asuransi kesehatan; sudah bergaji quarter digit atau lebih dari yang mampu dihitung kalkulator-pun belum tentu bisa bahagia.

Kok?

Karena uang-nya tadi itu..
cuma penyedap rasa.
penambah selera.

Ya kalau di-logika-kan memasak sup ayam.
Itu ajinomotonya.

Kalau airnya, mungkin memang akan matang.
Garamnya mungkin bisa ditambah.
Tapi kalau ayamnya busuk?
Apalah guna penyedap.

Seisi rumah menjadi busuk.

Analogi saya berjalan demikian.
Melihat beberapa manusia yang sepertinya telah menjadi kacang versi jawa;
atau boleh dikata ‘kacang lali lanjaran’; ‘kacang lupa kulit’

Kok?

ya bukan salah dua kelinci kalau sekarang banyak kacang tinggal kunyah.

Salah kacangnya,
kenapa mau ditelanjangi,
lalu dibumbu-bumbu-bumbu-bumbu aneka rasa.

Pikiran saya sedang liar.

Harus liar,
karena saya seolah seperti di hutan.
Harus dapat saya nyalangkan mata,
untuk tahu mana rusa mana singa.

Lalu kemudian saya perlu berkaca,
apakah saya rusa,
ataukah saya singa.

Natal kali ini,
tanpa perlu saya cerita,
ayah saya ada di doa.

Kemudian para rusa
dan para singa
lalu kacang-kacang tadi;
baik kacang yang masih menempel pada kulitnya;
maupun yang sudah ditelanjangi dan dikemas dengan barcode dan bumbu aneka rasa.

Mau kemana wahai saudara?

pesan saya cuma satu,
untuk semangkuk sup ayam;
saya mau ayam yang tidak busuk.
Tidak usah terlalu dipikirkan soal asin manis pedasnya;
saya hipertensi.

Advertisements