14422660__photo_a9dKPBo_700b_jpg

This country-right-or-wrong business is getting a little out-of-date.. History is moving pretty quickly these days and the heroes and villains keep on changing parts.- Ian Fleming.

Beberapa hari yang lalu, saya berpikir tentang cara menikah di Indonesia.

Sempat saya sedikit bertanya-tanya kepada mereka yang sudah menikah.
Menikah itu bagaimana?
Prosesnya lama?
Aturan mainnya apa saja?

Lupa saya tanyakan,
menikah itu apa.
Basic, tapi vital dan fatal kalau salah pengertian.

Beberapa hal yang saya temukan dari interview alakadarnya,
menikah di Indonesia terutama, itu sangat susah sebenarnya.
Beruntunglah yang sudah menikah,
tapi, apakah mereka merasa beruntung?
Pertanyaan, pernyataan, dibolak balik demi kontemplasi.

Menikah di Indonesia itu,
harus beda jenis kelamin,
demi reproduksi dan norma agama,
dan syarat menjadi keluarga berencana.
Kalau tidak bisa direncanakan, berarti keluarga tidak berencana.
Proyek tanpa rencana itu sebagian besar gagal,
jadi ini mungkin semacam antisipasi dari kegagalan pernikahan.
*ngawur*

Menikah di Indonesia itu,
harus seagama,
supaya gampang beribadah bersama,
supaya tidak ribut saat anak memilih agama nantinya,
karena biasanya anak nurut saja sama cantuman agama di raport sekolah,
dibawa bawa sampai bikin KTP.
Supaya ibadah, supaya diterima mudah oleh badan agamanya,
supaya sah,
nah ini.
Kalau tidak di sahkan, terus bagaimana?
ya rancu,
tidak sah, tapi legal.
Bingung?
sama.

Menikah di Indonesia itu,
harus perhatikan suku bangsa.
Kalau bisa ya jawa sama jawa,
batak sama batak, cina sama cina,
kalau enggak?
multikultur?
ribet.
Keluarganya menerima bagaimana?
nanti anaknya sipit sebelah?
nanti anaknya item putih,
atau nanti anaknya medok jawa tapi ngomong belakangnya pakai ‘Bah!’;
bingung.

Menikah di Indonesia itu,
harus punya duit.
Buat mahar,
buat bayar resepsi,
buat foto prewed yang keren,
buat beli rumah biar bisa langsung bikin anak di dapur secara open minded,
buat beli mobil, ya biar gak naek motor aja,
itu semua belum dijumlah lagi dengan : buat honeymoon (minimal ke Bali, biar sah honeymoon).
Mahal sepertinya.
Karena kalau sederhana nanti dikira gak mampu sama lingkungan.
Berat. Nanti jadi omongan.

Menikah di Indonesia itu,
harus subur baik sperma maupun ovarium.
Karena kita tidak akan pernah tahu kapan ditanya :
‘lho.. belum punya anak, udah berapa lama nikah?’
Kalau tidak subur,
maka ada beberapa alternatif yang mengarah ke ‘yang penting punya anak’;
misal, berobat ke dokter, berobat ke dukun,
bayi tabung, adopsi, dan lain-lain,
padahal, menikah tanpa anak, belum masuk kategori keluarga tidak bahagia.
Dan tidak boleh toh trial dulu kesuburannya sebelum sah?
Anak is a part of a life gift,
should we push it like that?

Menikah di Indonesia itu,
cinta nomer sekian.
Kalo sudah beda alat sex, seiman, mapan, ganteng, ayu, ningrat, keluarga berada,
bisa jamin bahagia, bisa jamin gak selingkuh, bisa jamin gak mengecewakan,
bisa menghidupi, bisa menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anaknya kelak,
(dan banyak lagi kategori yang kalau dipikir-pikir,
apa iya ada yang bisa jamin?)
keluarga rata-rata akan setuju saja.

Saya percaya,
Life is a chance,
to be a soul that you supposed to be.

Pertanyaannya,
what kind of soul are you? *dijawab : mio soul..*

Menikah di Indonesia itu ruwet sepertinya.
Tapi yang sudah menikah-pun, kadang pengen cerai,
kadang pengen menikah dua kali.

; And your point is?

My point is, sekedar pernyataan iri sebenarnya,
kepada yang bisa menikah sah, legal, akurat,
di Indonesia.
Dan sekedar usul,
bagaimana kalau di akhir buku nikah,
kemudian dicantumkan tanggal pisah?
Pisah mati, pisah cerai?
alasan pisah, dan skoring,
jadi nanti bisa ditarik historinya,
dan bisa jadi referensi bagi next user.

*dianggep sales tracking*
*angkat pundak*

* : Tulisan ini ngaco *sumpah dah*, mohon diabaikan. Tapi memang, menikah itu terms and condition applynya wuaakeh tenan masbro.

Advertisements