Tags

, , , ,

tumblr_nge1d7donf1rqrgswo1_500

It is not flesh and blood but the heart which makes us fathers and sons. – Johann Schiller.

Ada satu kalimat klise yang seringkali sekarang dipakai sebagai bahan gurauan;
‘apa sih yang enggak buat kamu..?’;
dan biasanya diakhiri dengan entah senyum jahil, atau senyum ngarep.

Buat saya,
yang kadang suka njelimet dengan otak sendiri,
kalimat itu sekarang ini lebih serius.
Bukan karena saya sekarang susah dibecandain,
kaya fans MU kemaren-kemaren jaman sering-seringnya kalah..
(kemudian disikat fans MU).

Hanya saja,
kadang ada satu titik di hidup kita,
dimana kita merasa belum memberikan yang terbaik.
Apa yang enggak buat kamu?
Memang apa yang iya?

Tulisan ini hadir dalam rangka mencari esensi dari kalimat itu,
yang kemudian saya flashback kepada jalur hidup saya;
dalam korelasinya dengan saya sebagai anak papa saya.
Hebat ya bahasanya. Sangat taktikal.
….

Apa yang enggak buat papa saya?
Mungkin kalimat itu akan lebih pas kalau saya ganti,
Apa yang iya buat papa saya?

Keinginan papa saya supaya saya terima saja dulu PMDK dan jadi dokter?
tidak dilakukan.
Saya malah memilih jurusan Aksiseksyur Arsitektur.

Harapan papa saya supaya punya anak yang hipster, kemana-mana naik vespa?
Tidak dilakukan, saya lebih senang naik Honda Grand,
irit, hemat, model pasaran, bagian kunci sering dol, dan gampang dicolong.

Asumsi papa saya bahwa setelah lulus kuliah sebagai Arsitek saya akan terkenal, tajir, kaya raya, sukses nenteng gulungan kertas gambar dan membangun Indonesia?
Tidak terjadi.
Saya jadi bagian dari tim penjualan. Memang merancang, membuat time schedule, memperkirakan budget dan sebagainya, tapi bukan untuk bangunan, apalagi candi.
Sukses?
Dalam parameter saya, sepertinya belum.
Bahkan pernah saya jatuh sejatuh-jatuhnya. Dan rumah kembali menjadi tempat persembunyian saya.
Selayaknya cancerian sejati, sembunyi kalau susah, nampak batang hidung untuk berbagi ceria dan kesenangan dengan teman.

Satu-satunya yang sejalan adalah,
keinginan papa saya supaya anaknya terus berdoa.
Kata dia dulu, bercita-citalah supaya kamu bijak seperti Salomo,
dan jadi pemenang seperti Daud.
Sampai hari ini, masih saya bawa dalam doa.

Soal garis hidup saya yang kesana-kemari,
masih dalam proses saya benahi satu-persatu.
Saya percaya, dan saya jalani, dan saya diam tidak banyak mengeluh.
Saya cuma yakin, orang kerja, orang jujur, orang yang tidak sombong,
orang yang menjaga api kasih dalam hatinya,
suatu saat nanti,
pasti jadi sumber berkat.

Hari ini,
hari kedua saya kangen papa saya.
Saya tulis dalam bentuk blog, karena kalau saya teriakkan nama dia lagi di dalam mobil sejalan saya pulang, ada kemungkinan orang menganggap saya kurang waras.

Saya kangen papa saya,
sampai-sampai melihat fotonya saja saya tidak sanggup.

Advertisements