Tags

, ,

tumblr_mwvjy55KDJ1r0clmjo1_1280

“So, this is my life. And I want you to know that I am both happy and sad and I’m still trying to figure out how that could be.” ― Stephen Chbosky, The Perks of Being a Wallflower.

Menulis itu terapi.

Sekedar mengungkapkan apa yang ada di kepala, dan hati,
ke dalam bentuk barisan kalimat,
yang mungkin suatu saat nanti, bila dibaca kembali,
bisa menjadi pelajaran, pengingat,
atau sekedar membawa efek melankolia.

Satu kalimat yang tadi malam saya ingat sepanjang perjalanan saya menuju tidur;
‘jika waktu dapat diputar..’

Jika waktu dapat diputar,
saya ingin kembali ke dua puluh lima tahun lalu.
Menjadi saya yang berusia tujuh tahun.
Kelas dua SD.

Berangkat pagi, pulang siang.
Bukan demi angka bagus di rapor, karena toh saya pun waktu itu nampaknya tidak peduli dengan barisan angka delapan di rapor.
Tapi demi uang jajan, lima ratus perak, yang kemudian dibelikan kartu Dragon Ball.

Jika waktu dapat diputar,
dan saya kembali berusia tujuh tahun,
saya ingin memeluk papa saya,
meyakinkan dia bahwa saya sayang sekali kepadanya.
Lalu hidup dengan pelajaran yang sudah saya bawa sampai dengan saat ini,
menghindari ‘lubang-lubang’ yang kadang saya ‘perdalam’ sendiri.
Menjalani hidup dengan baik dan tidak sembrono.

Bottomline-nya adalah,
mungkin saya tidak bisa menjadi seperti apa yang menjadi harapan dari papa,
apa yang sudah terjadi, biarlah menjadi pelajaran hidup untuk saya.
Tapi satu yang sekarang terjadi di hidup saya,
saya lebih sabar, jauh lebih sabar.
Lebih pemaaf.
Hati saya lebih diam.
Kepala saya tidak terlalu banyak tuntutan.

Kamu, pa..
Semoga bisa melihat dari atas sana.
dan kalaupun hidup setelah mati adalah musna.
Mudah-mudahan cukup,
cukup maaf dari papa untuk saya,
cukup maaf dari saya kepada papa,
Faktanya kita berdua, pernah,
dan akan selalu,
punya kasih abadi, ayah dan anak,
selamanya.

 

 

 

 

Advertisements