Tags

, , , , , , ,

tumblr_n3yckyA0v51qearggo1_500

“Why didn’t he say goodbye? I gave myself a bruise. Why didn’t he say ‘I love you’?” ― Jonathan Safran Foer, Extremely Loud and Incredibly Close.

20 Oktober 2014

Pagi-pagi sekali, kami berdua berkemas;
mengepak baju seperlunya, keperluan pelor, dan siap berangkat ke Semarang.
Saya menyetir. Nona hidung turki di sebelah memangku pelor.
Berpacu dari Bogor ke Semarang,
dengan kabar papa saya sakit, opname, dan sudah di ICU.

Pukul satu siang,
di Tol cipularang,
saya ditelfon adik saya,
supaya bicara dengan papa.
Saya meminta dia sembuh,
saya bilang saya akan jemput dia pulang ke rumah,
saya bilang saya sayang dia.

Pukul dua siang,
saya menelfon ke mama,
karena tidak ada kabar lagi bagaimana perkembangannya.;
dan mendengar adik saya meraung,
berkata bahwa papa sudah kembali ke rumah Bapa.

Dua siang itu,
kami berhenti di Cipularang.
Saya merasa dunia berhenti.
Sudah selesai.

Perjalanan selanjutnya,
nona hidung turki yang menyetir,
sambil menguatkan saya,
berkata bahwa papa saya sudah di rumah Bapa,
di tempat yang paling indah,
sudah sempurna disana,
sudah bahagia.
Dan saya terus bertanya;
apakah ini nyata..

Pukul enam sore,
kami tiba di Semarang, saya hilang kendali;
saya ingin loncat memeluk papa saya,
yang terbaring di ruang simpan jenazah.
Orang sibuk menenangkan saya,
dan saya sibuk mencari papa saya yang dulu tangannya hangat.

23 Oktober 2014

Papa saya dikebumikan.
Setelah upacara penghiburan dan pelepasan,
tanpa acara pecah semangka seperti layaknya adat lama.

Mama dan adik saya di depan,
memangku foto dan salib.

Saya dan si bungsu, mengikuti mobil jenazah bersama dengan hampir tiga puluh mobil pengiring di belakang.

Hari itu,
saya membacakan eulogy untuk papa saya.
Tulisan yang saya buat dalam kalut semalam sebelumnya.

Pertama kalinya,
saya membaca untuk papa,
selain membacakan bahan jamu dan fungsi akar-akaran;
selain ini-ibu-budi yang dulu sekali adalah bimbingan belajar dari dia.

Untuk saya,
papa adalah mercusuar.

Yang membawa kami pulang,
dimanapun kami berada.

Baik buruknya papa saya,
saya terima dan saya maafkan.
Dan saya harap, dia pun bisa demikian kepada saya.

Papa saya adalah orang yang tidak terlalu memanjakan anak dengan segala macam hiburan dan kesenangan.
Satu-satunya acara menonton yang pernah kami jalani,
adalah menonton sirkus.
Dan itu saja, sudah cukup.
Saya bahagia jadi anaknya.
Tanpa perlu liburan ke Bali tiap akhir catur wulan,
tanpa perlu baju baru tiap natal,
tanpa perlu melancong dan makan diluar tiap akhir pekan.

Untuk punya papa seperti dia,
saya bangga.

Dan kelak saya harap,
saya bisa membuat dia berkata,
untuk punya anak seperti kamu,
aku bangga.

Selamat jalan pa,
Tuhan sudah memanggil papa untuk disayang dan disempurnakan disana.
Beristirahat dengan tenang disana ya pa.
Banyak doa yang menghantar papa pulang ke rumah Bapa.

62 tahun yang papa punya,
Terimakasih Tuhan.
Dan lamanya waktu papa menjadi papa masing-masing dari kami,
suami dari mama, pacar abadinya, teman hidup selamanya untuk mama,
terimakasih pa,
papa sudah membahagiakan kami, seringkali dengan cara yang tidak kami duga.

Papa sudah memenuhi janji,
debu kembali menjadi debu.

Kami yang belum,
akan berjuang,
menjadi sebijak Salomo yang papa minta,
menjadi sekuat Daud,
menjadi sejujur Yunus.

I love you dad..
we love you.

Sampai maranatha pa,
kita ketemu lagi.

Advertisements