Tags

, , , , , , ,

IMG-20140820-WA004

“Love is illogical, love had consequences—I did this to myself, and I should be able to take it.” — Marie Lu, Prodigy.

You know you’re liking someone;
when you hear their name;
a tiny crack in your lips are making a smiling curve;
even just a bit,
their name triggers some happy poison into your brain.

And i can’t find it with goldy.

Kami mengambil goldy dari sebuah shelter.
Dengan maksud baik,
ingin membagi kasih di rumah bersama dia.
Berusaha memberi yang terbaik.
Perhatian, nutrisi, game-time, sharing the live we had here.

Pemberi goldy mengatakan;
goldy bukan anjing yang stabil secara emosional.
Kita tidak tahu, darimana asal ketidak stabilan itu.
Bisa jadi dari manusia yang memelihara sebelum dia,
bisa jadi proses pada saat dia dijalan.

The thing is;
on the first day, goldy menggerang marah to almost every thing;
lalu tiba-tiba mendekati nona hidung turki dan mau dipegang;
lalu entah kenapa menggerang lagi dan menunjukkan kemarahan.

Second day at home;
early in the morning,
saya dan pelor di rumah.
Goldy di kamar.
Pelor saatnya makan;
saya pikir goldy baiknya makan.
I try to call him,
dia growling dan lari ke arah saya.
Pelor menghadang, and let herself got bitten by goldy,
pelor melawan, goldy menginjak kepala pelor.
and it rages me out.

Third day and fourth,
goldy being goldy,
yang kalau suka ya diem,
kalau gak suka ya growl then try to bite or showing his teeth with anger.

Fifth day,
kami mau cuci mobil di depan rumah,
thinking it was good mungking kalau pelor dan goldy di depan sekalian main.
Goldy kabur.
Lari ke taman bermain yang banyak anak kecil.
People getting panic.
Nona hidung turki mengejar, saya memasukkan pelor ke rumah,
karena pelor berusaha mengejar mereka.
Nona hidung turki got bitten.
Tangan kiri 2 luka dan 2 lebam, tangan kanan satu lebam lumayan besar.

Tapi kasih ibu,
or most likely, kasih perempuan memang gak ada habisnya.

Sudah digigit,
masih sayang setengah mati.

Tonight,
hari ke delapan goldy di rumah.
We share food, dalam arti makan bareng.
Nona hidung turki berusaha feeding them with hands.
Pelor santai kalau makan satu tangan bagi-bagi sama goldy.
Goldy gak santai.
He bit pelor, again.
I got so mad. I throw him bantal sofa.
Pelor duduk tiduran melingkar di dekat nona hidung turki,
licking my wife’s feet.

The thing is,
i dont feel safe around him.
Dan sekarang pelor bisa growling toward us.
Yang sebelumnya enggak pernah terjadi.
Pelor itu, pelor yang sebelum kenal goldy,
memang bandel, suka gigit-gigit semuanya,
tapi nurut.
Never growl.
Dan enggak gigit beneran.

Saya tidak ingin membesarkan pelor dengan ajaran yang demikian.
Saya ingin pelor tumbuh jadi anjing yang ramah kepada manusia.
Anjing yang bisa bersosialisasi dan tidak punya mental menyerang.
Dan sepertinya akan susah,
mengingat dia masih dalam umur tiga bulan,
yang kerjanya meniru dan belajar terus;
till she make her own personality.
Saya ingin pelor jadi anjing yang stabil.

Besok hari Minggu,
sedianya ada rencana untuk memulangkan goldy ke shelter.
Lima jam yang lalu, goldy baru saja menggigit pelor.
Satu jam yang lalu, nona hidung turki tanya ke saya,
; kita jadi mulangin goldy?
: ya.. kamu gak mau yah?
; iya, udah sayang sama dia..

Saya sayang pelor,
sampai ke level yang saya tidak ingin dia tumbuh dengan salah.
Saya baru saja ajak ngobrol pelor,
entah dia ngerti atau tidak..

Kalau goldy stay,
berarti nanti pelor yang balik ya nak,
ke tempat ci lina, (yang ngasih kami pelor),
disana ada mamanya pelor,
disana gak ada yang gigit pelor,
nanti pelor belajar jadi anjing yang baik.
Nanti papi jenguk pelor sesekali,
papi ajak main sama bawain snack stick rasa pisang kesukaan pelor.

Pelor nunduk-nunduk,
lalu tiduran.
Saya enggak ngerti, pelor paham apa yang saya bicarakan atau tidak.
Yang saya tahu,
rasanya sedih, hehe..

Saya brengsek,
saya pernah jahat,
dan mama saya masih sayang.
nona hidung turki juga.
Analoginya begitu yang dipakai ke goldy oleh nona hidung turki.
Yang saya kuatirkan,
kalau kami pulangkan goldy,
nona hidung turki akan jadi seperti ‘berkurang sayangnya’ barang 1% ke pelor,
and it shouldn’t happen.

Dan saya tidak ingin pelor tumbuh dengan salah.

Berat rasanya?
iya.
Tapi lebih baik begitu.

untuk pelor yang dewasa nanti.

Advertisements