Tags

, , , , , , , , ,

SONY DSC

“We can be laughed into silence for attempting to speak in praise of phenomena which we lack the right words to describe. We may censor ourselves before others have the chance to do so. We may not even notice that we have extinguished our own curiosity, just as we may forget we had something to say until we find someone who is willing to hear it.” ― Alain de Botton, The Architecture of Happiness.

Day 21: He or she sees their crush in a library. describe the incident.

Ada yang menemukan ketenangan di dalam sajadah;
ada yang menemukannya di dalam kerumunan manusia, diantara sejuta lampu gemerlap kota Jakarta.
Saya menemukannya di dalam buku.

Seperti seolah pergi ke dunia yang ditawarkan kepada saya;
tiap dialog, alur dan konspirasi dari kata-kata yang disusun untuk menghisap saya masuk dan lenyap dalam dunia setebal yang bisa kita kira-kira.

Berjalan mengelilingi alur buku yang berjejer;
disusun secara alfabetik,
boleh saja dibilang saya perfeksionis soal ini;
tapi ketika ada yang tersusun tidak pada tempatnya,
ada kecenderungan dari tangan saya untuk memindahkannya ke posisi yang seharusnya.

Ada kebahagiaan kecil yang ditawarkan dari tiap buku;
ada persahabatan kecil antara kita dengan tokoh yang kita kejar ceritanya di buku itu;
ada banyak pengalaman yang mereka alami, bisa fiksi, bisa nyata;
yang kemudian kita pelajari tanpa perlu kita alami.
Asumsi akan selalu ada; dan itu terserah kita,
yang jadi masalah adalah cara baca kita,
sudah benar?

Saya memikirkan itu sepanjang lorong novel sci-fi di toko buku yang dengan menyebut huruf awalnya saja semua makhluk Indonesia bisa menebak namanya.
Selama kurang lebih lima detik mata saya bertemu dengan mata perempuan itu.
Yang berjalan mengarah ke saya,
dan kira-kira dalam waktu satu menit,
dia akan sampai kemari.

Saya harus bagaimana?
senyum?
membenahi kemeja?
merapikan kepribadian?

Satu menit sudah selesai,
perempuan itu sekarang berjarak kurang dari lima puluh centimeter.
Jarak yang semula sebelum Indonesia menjadi alay adalah kategori jarak intim;
jarak yang dekat; jarak santun yang seolah tanpa jarak.

Tiga puluh centimeter.

Duapuluh centimeter.

Dan nol.

Saya menggandeng tangannya.
Dia melihat saya,
menggandeng saya,
: ‘sayang, udah dapet bukunya?’
; ‘iya ini, udah..’
: ‘mau pulang?’
; ‘ayo..’

Perempuan yang bisa jadi masuk kategori agak-kurang-suka-baca ini;
sudah bersama saya enam bulan dengan status pacar.
Nona hidung turki.
Perempuan yang dulu harus saya kejar sepanjang BSD-Cikarang,
sekarang ada disebelah saya,
dengan jarak kurang dari tiga puluh centimeter,
kurang dari panjang penggaris besi ala anak SD yang either perfeksionis atau tukang bully.

Saya menemukan cinta didalam dia.
Disini,
disana,
kalau dinyanyikan menyerupai lagu anak anak soal naik ke puncak gunung.
Kekanak-kanakan.

Tapi begitulah cinta,
yang kata agnes monika tanpa logika,
yang kata patkay deritanya tiada akhir,
yang kata saya ada dalam dia.

Sayangnya,
Cinta yang begini,
belum cukup untuk jadi modal nikah ditayangkan di tivi.

Cinta yang begini,
cuma cukup dinikmati berdua.

Sedamai yang kami bisa,
sedalam yang kami punya.
demi Indonesia yang lebih baik,
bukan begitu saudara?

PS : i started to continuing what i should’ve done months before, finishing this 30 days of writing challenge. 🙂
FORÊT DE BONDY : Lieu de mauvaise fréquentation (Place of poor attendance)

To nona hidung turki :
terimakasih ya.. for staying, untuk tetap bersama saya ketika kabel saya kusut semua.

Advertisements