Tags

, , , , , , ,

IMG_20140816_121426

As I see it, you are living with something that you keep hidden deep inside.
Something heavy. I felt it from the first time I met you.
You have a strong gaze, as if you have made up your mind about something.

To tell you the truth,
I myself carry such things around inside.
Heavy things.

That is how I can see it in you.
Haruki Murakami, IQ84

Bibir saya luka,
seperti bekas ‘ribut’ dengan orang;
terkesan gahar dan agak preman.
Pelakunya?
Pelor via cipokan mesra.
hehehe..

Bagi saya,
pelor, bocah yang ada di foto itu,
adalah cinta pada pandangan pertama.

Proses adopsi yang mudah dari seorang kawan kerja,
hari pertama kami jemput, saya dan nona hidung turki,
excited sekali.
Persiapkan kandang bersih-bersih,
lalu kemudian kami bawa beli perlengkapan dia di sebuah petshop;
mainan; makanan; snack; parfum; boneka;
dan perlengkapan lain.

Kami adopsi dia di usia tujuh minggu.
Sudah hampir dua bulan bersama,
badannya semakin tinggi sedikit,
dan tetap bulat.
Tidak akan ada laki-laki yang kuat lihat pelor jalan.
Pantatnya itu..
Samoyed aja pasrah..
wadoh.. *kemudian dipanggil kak seto*

Sesuai namanya,
pelor; nempel molor-kalau ada yang kurang jelas;
hobinya tidur. kurang hobi ngegonggong.
Tumbuh makin besar, hobinya ditambah lari-lari,
gigit-gigit apapun yang di depan dia;
gulat dengan boneka doraemon kepunyaan nona hidung turki,
ngaca dan curhat di kaca;
selfie; iya, selfie..
tidur bersama boneka anjing kesayangan dia,
ngigau pas tidur kalau habis dimarahi;
yang kadang suka cegukan;
ngulet sambil tiduran;
makan baso, tomat, wortel, dan ayam dan roti dan minum es krim tentunya,
dan..
mengantar kami kerja lewat pandangan sedih dibalik jendela.

Kalau sayang adalah bahagia melihat yang tersayang senang,
dan sedih melihat yang tersayang susah,
maka saya bisa bilang bahwa saya sayang dia.
Si pelor.
Pelaku bekas luka macam jagoan di bibir saya,
dan lawan main gulat ala WWF smackdown saya.

Saya sadari,
pelor bukan anjing yang serba hebat,
yang bisa disuruh lari-tiarap-guling guling-koprol dan semacamnya;
yang pemenang kontes.
Pelor baru bisa sit-lempar tangkap-dan kiss mami papi.
Pelor gigit-gigit.
Tapi pelor sayang saya;
ketika nona hidung turki tugas ke luar kota,
saya, yang kadang tukang parno, setia diiringi dia kemanapun saya melangkah.
Dan dia sayang nona hidung turki,
sayang sekali malah,
sampai-sampai baju nona hidung turki dibawa tidur dan dijadikan alas kepala.

Pelor bukan anjing istimewa versi top breeder yang pake stambum,
tapi buat saya,
bulu pelor yang halus sekali,
dan cara dia ‘menjagai’ kami semampu dia,
itu sudah istimewa.

Saya jatuh cinta pada pandangan pertama lagi,
setelah kepada nona hidung turki,
lalu kepada nona pelor yang besok vaksin ketiga;
yang sekarang sedang tidur didekat bonekanya.

Saya sayang pelor;
sebegininya;
dan saya tidak tahu bagaimana bisa terjadi.

Sayang tidak bisa dipaksakan;
sayang cuma bisa dirasakan.

Pelor bukan peliharaan,
karena dia bukan wanita idaman lain saya
*ditoyor*
pelor adalah bagian dari saya,
yang akan langsung duduk depan saya kalau saya sedih;
dan duduk di samping saya sambil menunggui nona hidung turki pulang;
punggung ketemu punggung;
romantis yah..

*kemudian foto berdua*

Advertisements