Tags

, , , , , , ,

tumblr_n5delhMajP1qzleu4o1_1280

We are not the same persons this year as last; nor are those we love. It is a happy chance if we, changing, continue to love a changed person. – William Somerset Maugham.

Hidup saya, bukan lagi sekedar hidup saya.
Mungkin demikian juga dengan hidup kamu,
bukan sekedar hidup kamu.
Ada hidup orang-orang ‘dibalik layar’ yang menyebabkan kamu masih bertahan;
masih ingin bertahan hidup; masih berjuang;
atau malah mungkin menjadi penopang semangat hidup kamu.

Membahas hidup;
membahas cinta;
siapa yang bisa jabarkan dalam satu halaman saja?

Daridulu,
sudah banyak manusia berusaha mencari artinya, dari kata hidup, dan cinta;
sedikit yang menemukan dan memilikinya;
banyak yang memperjuangkannya.
Dengan mengambil milik orang lain; dengan berusaha sendiri;
dengan dibantu orang lain; banyak cara.
Sudah kamu temukan?

Beberapa kali dalam fase hidup kita,
ada momen yang membuat kita berpikir lebih dalam tentang sesuatu.
Kadang peristiwa-peristiwa penting (atau tidak terlalu penting) bisa jadi pemicunya.
Untuk saya,
itu adalah apa yang terjadi sejak saya pulang kampung.

Melihat secara dekat mereka yang saya sayang; keluarga.
Merasakan rindu yang susah ditebus kepada dia yang saya sayang; pacar.
Membebaskan diri sebentar dari apa yang wajib dan secara priviledge saya masih dipercaya; pekerjaan.
Menjauhkan diri dari hingar Jakarta dan isu ‘Bogor kan dingin‘; lol.
Datang ke kampung halaman orang tua; menjalin komunikasi yang sudah sekian tahun tidak ter-maintain dengan istimewa; sanak keluarga besar.

Manusia berubah.
Dari hari ke hari,
dari tahun ke tahun.
Manusia yang tidak berubah sama sekali, bebal.
Jagung di ladang saja bertumbuh.

Saya berubah,
demikian juga dengan orang tua saya,
demikian juga dengan adik-adik saya,
demikian juga dengan kamu yang tersayang, tercinta; kalau ikut versi pujangga.

Ketika saya ungkapkan saya sayang;
artinya saya lebih dari sekedar cinta.
Karena versi saya, cinta itu berharap dibuat skor nya satu sama.
Ada poin plus dari seseorang yang kamu kagumi, yang kamu ingini;
dan kata ‘sayang;, punya makna lebih dari sekedar itu.
It’s deeper.
Gak pake syarat dan ketentuan.

Saya, kamu,
bisa dengan gampang akan cinta kepada dia yang cantiknya naujubilah, gantengnya naujubilah, orang yang baik, orang yang memperlakukan kamu dengan istimewa, orang yang nilainya plus dan jarang minus di depan kamu.
You know what?
Sayang itu, mencintai dalam kekurangan.

Tapi sayang juga tidak buta.
Harusnya masih diiringi dengan rasio dan pertimbangan matang.
Karena untuk merealisasikan, mewujudkan, mengungkapkan dengan tindakan;
itu semua harusnya selektif.

Saya berubah; kamu berubah;
kita bisa masih saling sayang;
itu saja buat saya hal yang membahagiakan.

Karena di tahun 2014 ini,
semakin banyak orang memanggil orang lain dengan ‘sayang’ secara enteng;
si enteng bibir makin bertebaran di muka bumi;
bilang sayang; bilang kangen; bilang cinta;
tanpa realisasi; tanpa bukti aktual; karena sekedar pengen;
karena sekedar iseng.
Which is fucked up.
Meaningless.

Jadi mari,
setelah kembali fitri,
kita kembalikan kata ‘sayang’ ke fitrahnya *berasa dai*

Kembalikan ‘sayang’;
yang cukup punya arti dalam,
yang meyakinkan mereka yang tertuju dalam kata ‘sayang’ itu;
tanpa harus dieja dengan kalimat : aku sayaaaaaaaaaaaaang bingits sama kamu..

kasian yang bikin KBBI.
Ngerekapnya susah.
Sayang;
sayaang;
sayaaaang;
sayaaaaaaaaaaaang;
bingits..

*facepalm*

Note :
when i say i love you, aku sayang kamu, i mean it, from my every soul, from my every breath, from my every wounded life, to love you, to have you as you are, to be with you, as we both changed into a better person, as we improve, day by day, in His time.

Advertisements