Tags

, , , , ,

tumblr_m045rt8qA71qdkjypo1_500

I lived in pain because I chose to live in pain. Somewehere along the line, I fell in love with the idea of tragedy, the idea that I was destined to live a tragic life. – Benjamin Alire Saenz, Last Night I Sang to the Monster.

Kalau waktu bisa diputar kembali,
ke masa mana kamu mau kembali?

Saya,
tipikal orang yang bisa dibilang hidup di tengah;
percaya Tuhan, tahu ajaran Tuhan,
tapi melanggar,
tahu itu salah,
tapi beranggapan bahwa ya beginilah saya.

Moral saya pegang, saya punya,
tapi saya juga punya ‘pengecualian’ di beberapa titiknya.
Terutama yang saya sudah tahu tidak akan bisa saya lakukan.
Being normal, itu paradox buat saya.
Hidup saya penuh hal yang ambigu, bahkan untuk saya sendiri.

Saya pernah baca,
bahwa kemampuan manusia untuk deal with their pain, ada empat tahap.
Pertama, tidur.
Kedua, forgetting,
ketiga, madness,
dan terakhir, mati.
Itu adalah cara klasik manusia menghadapi hal yang sebutan halusnya: ‘kurang menyenangkan’ dalam hidupnya.

Time will heal all wounds.
Wrong.
Time teach us to heal most wounds,
and forget the rest.

Saya bicara berputar-putar,
padahal yang ingin saya bilang hanya satu,
saya yakin saya banyak dosa.
dan itu yang membuat saya selalu banyak masalah.

….

Saya jenis orang yang kurang percaya pada hal-hal klenik.
Apa yang terjadi di hidup saya, saya yakin itu seijin Tuhan saya.
Saya cari solusi didalam Dia.
Tapi..
kadang saya berpikir,
apa iya doa saya didengar,
ketika saya adalah orang yang terkategori ‘pelanggar aturan Tuhan’;
apa iya?

Jangankan memikirkan dosa nenek moyang saya yang masih percaya berhala,
mikir dosa saya sendiri saja kepala penuh.

Masih ingat teori kiamat yang saya buat?
bahwa Tuhan itu sayang sekali pada manusia;
bahkan ketika kiamat nantinya ada;
manusia akan dibuat setenang mungkin menghadapinya.
Mungkin dunia akan ada dalam cuaca yang sejuk,
langit sedikit mendung, angin sejuk sepoi-sepoi yang bertiup.
Lalu ada suara Tuhan yang meminta kita semua pulang.

Begitu bebalnya saya,
sampai kitab suci saya atur sendiri.
Saya salah.

Never in my life,
i planned to live happily ever after with my ‘Cinderella’.
Saya bahkan pernah yakin,
nanti saya tua kemana mana sendirian.
Makan pancake sendirian di truck diner di San Fransisco,
and probably die alone in my tiny apartment there.

What i wish is;
keluarga saya punya hidup yang bahagia,
pacar saya punya hidup yang bahagia,
all friends are in a good condition and content with their life.

Can it come true?

Advertisements