Tags

, , , ,

tumblr_m4ubwd9nGC1qkpeqao1_400

One day someone is going to hug you so tight. That all of your broken pieces will stick back together. – Anonymous.

Day 20: Use these words in a story: grandfather, photo album, post office, and folder.

Jauh sebelum saya bosan bicara,
dulu sekali, saya tidak bisa bicara.
Bukan karena bisu,
tapi memang begitulah balita bukan?

Kata ibu saya,
saya lebih cepat jalan daripada bicara.
Waktu kecil, sempat dikuatirkan saya tidak mau bicara.
Semacam diam saja kalau diajak bicara.
Dicurigai tuli bahkan. Tapi kalau dengar sesuatu bisa.
Mungkin bisu, tapi kalau sebatas panggil mama masih mau.
Irit bicara saja.

Sampai sekarang mungkin aturan tersebut sebenarnya masih saya pegang;
bicara hanya mana-mana yang perlu;
bercanda iya, bicara serius iya, hanya saja tidak bisa seharian terus menerus buka mulut dan bicara bicara bicara.
Biasanya setelah bicara banyak di pagi atau siang hari,
malam hari saya seperti kehabisan kuota ngomong.
Malas bicara.

Saya pernah dinasehati,
oleh orang yang jauh lebih tua dari saya,
jangan banyak bicara; nanti jadi bumerang.
Sebelum dia tahu bahwa saya memang jarang bicara banyak. Kecuali sangat excited.
Setelah dia tahu saya lebih lama,
nasehatnya diubah;
bicarakan apa yang kamu pikirkan, orang susah baca kamu.

Saya yang membingungkan,
atau memang manusia lebih senang diberi ucapan manis-manis jaman sekarang?

Berlaku juga untuk pacaran.
Berlaku juga untuk dunia kerja.
Berlaku juga untuk hubungan pertemanan antar manusia.

Yang manis,
memang lebih gampang ditelan.

Jauh sebelum saya bisa bicara banyak,
orang tua sayalah yang sabar mengajak saya ngobrol.
Panjang lebar bercerita,
sambil memukul-mukul gambar kalender toko mas gambar anak kecil ciuman,
pakai kemoceng, malam sampai subuh.
Sesuai dengan jadwal nangis saya waktu bayi,
start jam 10 malam, selesai jam 4 pagi, nangis tidak berhenti,
kecuali diajak ngobrol soal anak kecil di kalender toko mas;
kecuali diajak lihat-lihat album foto kawinan orang tua saya;
kecuali diajak lihat gambar bangunan kantor pos besar Semarang;
kecuali diajak cerita, soal leluhur-leluhur saya.

Saya bakat jadi DJ sebenarnya.
Aktif di pagi hari sejak bayi.

Jauh sebelum saya bisa bicara panjang lebar;
orang tua sayalah yang sabar mengajari saya bicara.

jauh sebelum saya bisa cerita,
bisa bilang lapar, bisa bilang sakit, bisa bilang saya senang,
bisa bilang saya susah, bisa bilang saya jatuh cinta,
bisa bilang saya marah, bisa minggat, bisa kembali ke rumah,
bisa bilang kangen..
Orang tua sayalah yang sabar mengajak saya bicara hanya bertiga.
Saya, mama, dan papa.
Cuma kami bertiga.

Saya anak pertama;
kata papa saya,
saya calon pengganti dia,
calon gantinya orang tua, kelak suatu saat;
yang saya harap masih lama.

Saya anak pertama,
dimana adik bungsu saya hanya nurut kepada saya.
Tidak pernah membantah.
Alasannya?
karena saya jarang nyuruh-nyuruh.
Padahal soal bercanda, kami bisa ketawa-ketawa sampai dia ngompol.

Saya ini ambigu mungkin.

Si bisu,
tapi bicara banyak pada mereka yang dianggap keluarga.

Advertisements