Tags

, , ,

tumblr_ms7a4b6ijT1rclv0wo1_500

That’s the trouble with a brain – it thinks more than you sometimes want it to. – Tom Perrotta, Little Children.

Day 19: Write an obituary for a historical figure.

Setiap penemu hebat, pasti awalannya dari mimpi.
Setiap politikus hebat, pasti awalannya dari gagasan.
Setiap orang tua hebat, pasti awalannya dari cita-cita.
Tapi semua kan jadi nol besar tanpa konsistensi.
Bukan begitu?

Melanjutkan post dari 30days writing challenge;
saya lanjutkan duel saya dengan yang namanya ‘kemalasan’;
meneruskan seri ini sampai selesai dan touch down di angka 30.
Konsistensi. *elus dagu*

Saya pernah dengar khotbah pendeta;
beda pahlawan dan penghianat adalah pada titik mereka ‘kapan menyerah?’.
Pahlawan akan berjuang terus sampai titik darah penghabisan;
berhenti kalau mati.
Penghianat, seringkali (menyerah) (jadi) kalah tengah jalan.
Bukan artinya saya sedang memberi stigma,
hanya saja saya pikir masuk akal juga.
Apa jadinya kalau Diponegoro berhenti dan tidur gegoleran saja di rumah;
malas-malasan karena kakinya ngilu?
….
Di buku sejarah dari SD,
tidak akan muncul pertanyaan;
kapan berlangsungnya perang Diponegoro?‘;
salah satu pertanyaan wajib dan abadi di sepanjang saya sekolah.

Tokoh yang akan saya bicarakan,
bukan tokoh yang sangat amat terkenal sampai kalau penguin di antartika ketemu pasti nunduk hormat kepada beliau. Tidak semashyur itu.
tapi untuk saya, dia visioner.

Cina di Indonesia harusnya berterimakasih kepada dia;
sejauh yang saya tahu, dan saya baca, dimana ada kemungkinan saya kurang literatur;
cuma dia yang bisa membuat kita semua libur Imlek.
Setelah sejarah panjang dan beberapa anticina yang pernah saya dengar dari orang tua saya, akhirnya ada kesempatan untuk semua cina (termasuk saya) menikmati hari libur yang rasis itu. *digampar*

Ini harusnya obituary; dan obituary biasanya mellow dramatis.
Tapi tokoh kita luar biasa.
Selalu bisa menemukan celah ‘kelucuan’ diantara semua ironi yang ada di negeri kita.

Agak agak enteng bibir. Komen lucu; sarkastis cerdas.
Muka yang pas-pasan; kesehatan yang belakangan tahun di akhir hidupnya ikut pas-pasan.
Visi. Pandangan. Ide. Gagasan.
yang jauh lebih terang dan ‘menyala’ dari orang-orang politik terkenal di era kemarin bila dibanding dengan mereka yang bisa secara nyata melihat dunia.
Keterbatasannya,
menjadi kekuatannya untuk objektif.

Saya bicara soal Gus Dur.

Tentang salah satu mantan presiden kita.
Yang akhirnya berkat dia,
di rekor negara kita ada Imlek,
ada pandangan kesamaan agama yang lebih luas,
ada presiden perempuan yang entah berhasil entah gagal,
ada pandangan-pandangan anti mainstream yang keluar dari mulut kaum agamis.

Saya yang kurang literatur,
mencoba menulis obituary seadanya untuk salah satu tokoh dalam negeri yang saya kagumi.
Bukan Einstein, bukan JFK, bukan Pascall, atau Goodyear yang sejarah hidupnya dulu saya baca berulang-ulang-ulang kali di buku-buku perpustakaan.
tapi Gus Dur.

Dua penggalan kata.
Mantan presiden.
Physically not perfect.
Mentally awesome.

Humble. Bright. Witty. Tough. Wrapped in a loving heart.
apalagi yang kita perlu dari social controller?
karena dia pemuka agama;
karena dia ketua partai masa itu;
karena dia pencetus ide-ide;
karena dia pernah jadi penentu kebijakan.

‘Tidak penting apapun agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukukan sesuatu yg baik untuk semua orang, Orang tidak akan tanya apa agamamu’
Begitu katanya.
jadi kasih bisa untuk siapa saja.
dimana saja.
kapan saja.
Bukan mata dibalas mata.

Gitu aja kok repot.

Advertisements