Tags

, , , , , , , , , ,

tumblr_mtwav2MHOf1s7ll4ao1_500

We were all just walking around this city with our hearts sadly swimming in our chest, like dying fish on the surface of a still pond. It’s enough to make you give up entirely. – Jami Attenberg, Instant Love.

Day 18: A story set in a ghost town.

Berdasarkan sensus penduduk yang saya baca di Wikipedia tahun 2010,
Jakarta punya sekitar 9.6 juta penduduk; Bekasi punya 2.3 juta penduduk; Tangerang punya 1.8 juta penduduk.
Saya adalah salah satu penghuni.
Dihitung atau tidak dalam sensus itu ya kira-kira?

Saya ada satu dari antara banyak manusia yang lalu lalang cari uang di sekitaran Tangerang sampai dengan Serang.
Dia, (perempuan yang lebih idealnya disebut sebagai pacar saya), adalah satu dari antara 2.3 juta menurut data Wikipedia.
Saya yang mondar mandir Serpong-Bekasi; dan dia yang akhirnya kenalan dengan sofa warna krem di kamar kos saya.

Hari ini tugas saya adalah membuat cerita yang ber-setting di kota hantu.
Kota apa di Indonesia yang lebih hantu dari Jakarta?

Manusia lalu lalang tanpa saling kenal; atau berusaha kenal (jika punya motivasi);
manusia senyum satu sama lain hanya sebatas formalitas;
jabat tangan bukanlah komitmen yang dijalin dari persaudaraan tulus;
lebih sekedar hi-bye relationship yang di-extend selama beberapa menit dan diperdalam statusnya dalam sebutan ‘kawan’.

Saya awali cerita kami,
dari sebuah ‘perjodohan’ yang diatur oleh teman dia,
yang juga teman saya.

Di era semodern ini; cari pacar memang bukan hal yang terlampau susah.
Cari orang yang bisa melengkapi kamu; mendampingi kamu; yang dalam tiap menit bisa saja jadi pemacu sekaligus distraksi terbesar kamu; yang bisa buat kamu jatuh cinta gulung-gulung sampai tua, Nah, itu susah.
Ada blackberry. Ada watsap. Ada twitter. Ada path. Ada semua yang kamu perlu.
Masalahnya cuma satu.
Hati kamu,
sudah siap tempur lagi?

Dari sebuah perjodohan;
kami punya cerita yang baru seumur minggu. Dua tiga mingguan. Masih terlalu prematur untuk disebut relationship. Masih terlalu dangkal untuk diproses supaya bisa diberi ekspektasi. Setidaknya begitu asumsi logis yang saya punya.
Tapi hati bicara cinta.

Saya, 31.
Dia, 21.
Satu dekade. Dua pemilu.
Tapi mungkin hasil pemilu keduanya adalah Suharto.
…..

Tiap kali saya lihat dia,
saya seperti diberi tahu ‘begini lho sayangnya aku sama kamu’ oleh Tuhan saya.
Tiap kali saya lihat dia,
saya seperti diberi tahu ‘kamu lipat tangan, dia sujud’
Kami beda agama.

Mungkin ini semua tidak akan berujung pada satu hal yang serius sekali,
seperti menikah.

Tapi senyumnya.
Suaranya. Tawanya. Matanya.
Malu-malunya tiap kali saya lihat dia kelamaan,
caranya menenangkan saya,
suara bangun tidurnya,
adrenalin rush untuk saya.

Candu baru.

Cinta baru?

Bisa jadi.

Cikupa-Serpong-Bekasi,
kalau menurut saya butuh lebih dari sekedar lust.

Jadi cinta?

iya. Mungkin?
Tapi beda.

Advertisements