Tags

, , , , , , ,

9779750071_86782bb6c6_c resize

(It means : live without dead time)

You never know what book you wrote until you know what book people read. – Michael Lewis.

Day 8: Write a prequel to that Superhero. Pre-Superhero life. Maybe their childhood. (instead of childhood, i prefer present day, would that be ok?)

Kalau boleh saya protes,
maka satu hal yang saya mau protes.
Dunia sekarang, yang harusnya orang-orangnya makin pintar,
makin cerdas, makin luar biasa postingan tweet-tweet bijak nya,
makin radikal pandangannya,
tapi malah makin mundur kalau dalam pandangan saya.

Orang sekarang,
menilai orang lain,
secara lebih terskala. Untuk mengasihi, ada ukurannya.
Membicarakan orang lain, dan kehidupan orang tersebut,
secara lebih ‘sepihak’. Dalam kepentingan dia.
Menginginkan apa yang bukan kepunyaannya.
Menempuh seribu satu jalan, bukan lagi cuma untuk ke Roma,
tapi juga ke kota-kota lain yang mungkin bukan kepunyaannya.

Pendek kata,
saya kuatir,
saya, yang bukan orang benar ini,
kuatir, terhadap dunia yang hawa negatifnya terlalu pekat ini.

Dari situ,
saya, yang memang dasarnya ada bakat untuk jadi anggota legislatif khusus member depresan, mencoba cari jalan, supaya ada benteng saya, terhadap semua yang negatif, dan mengusahakan otak dan hati saya positif.
Karena dari yang negatif, saya tak pernah dapatkan satupun yang baik;
tak ada berkat; tak ada mukjizat;
hanya kekuatiran; dan ketakutan; jalan gelap tanpa ujung.

Pahlawan saya kemarin,
Si agent E,
sedang ada di suatu kota bernama City of Worries,
dia siap dengan dua pistol manual di sisi kiri dan kanan,
semua terisi penuh, masing-masing enam peluru.
Kadang keluar dari satu bar,
sebentuk makhluk yang dia kenali sebagai saudara,
tapi lambat laun ketika diterpa matahari,
makhluk itu akan berubah wujud menjadi monster Kekecewaan.
Ditembak. Dor.
Mati?
belum.

Jalan terus ke depan,
dari samping kiri, dan kanan,
keluar dua laki-laki berkuda,
semua bergaya luar biasa,
seperti lagak hebat Lone Ranger ketika menghabisi musuh-musuhnya.
Matahari yang tak kenal ampun,
menyinari dari balik topi,
tubuh tubuh dan kuda itu berubah wujud,
keduanya menjadi pasangan monster paling menakutkan sepanjang sejarah manusia;
Monster ‘what if’ dan Monster ‘if only‘.

Tak kenal lelah,
dia memang harus selalu maju,
karena ya begitulah hidup.

Lalu dari sebuah Saloon yang cantik dekorasinya,
keluar seorang demi seorang yang ia kenali sebagai bagian dari keluarga besar,
keluarga inti, teman-teman, mantan teman,
mantan calon keluarga, rekan kerja,
mantan yang tercinta,
satu demi satu,
pelan tapi pasti,
semua keluar dan meleleh diterpa matahari.

Satu demi satu berubah,
menjadi monster Beban, Tanggung jawab,
Ingatan Buruk, Memori yang tak mau berhenti,
Harapan kosong, Putus asa, Jalan pintas,
Benci, Maki, Ratapan,
tak satupun yang keluar dan tawarkan segelas Masa Depan.

Tapi pahlawan kita ini hebat!

Kau tahu?
ditembaknya semua orang itu dengan satu peluru.
Iman.

Menggelepar semua di atas tanah.

Satu demi satu,
leleh habis.
Ditolak tanah, dihempas udara.

Bahkan udara tak rela,
bau-bau busuk bekas monster itu terhirup oleh pahlawan kita.

Bahkan tanah tak rela,
jejak kematian monster-monster itu dilangkahi pahlawan kita.

Saya berdiri saja disana.
Kami, yang sayang dia,
menunggui dia,
yang tergopoh-gopoh datang kehausan,
mencari masa depan,
dalam iman.

Kuat. Kuat. Kuat. Remember?

Advertisements