Tags

, , ,

tumblr_lip7iubzeX1qhzd1do1_500

Strangers tended to stay strangers. How often did a person initiate conversation on a plane or while waiting on line? People kept to themselves. It made them feel safe. – Blake Crouch, Serial.

Day 3: A story revolving around an object in your room

Pagi belum pagi,
kalau nyawa saya belum diguyur kopi.
Walau prosesi ‘penyucian’ pagi-nya bisa melalui beberapa metode,
setelah bangun dan sebatang dulu;
langsung ambil dan minum dari kaleng di kulkas;
luangkan waktu untuk menjerang air keran dan menyeduhnya panas-panas;
atau sekedar mampir sebentar ke McD yang tiap hari saya lewati dan memesannya secara cepat dan instan (walau kurang saya sarankan).

Kalau disuruh memilih satu benda yang bisa jadi semacam nyawa kedua saya di ruang kantor yang tidak seberapa besar ini,
pilihan saya jatuh pada segelas kopi dingin di gelas tinggi dan tanpa sedotan.
Saya kurang suka minum pakai sedotan.
Rasanya seperti mencoba untuk berlagak sok imut.
Kurang pantas saja rasanya.
Apalagi kalau mejanya tinggi, gelasnya tinggi, dan masih pulak ada sedotan,
berapa tinggi leher kita ulur harusnya supaya bisa dalam gesture yang baik,
selagi mulut mencoba meraih sedotan dan mulai minum,
namun masih dalam pose yang sopan dan dipermanis?
Terlalu repot untuk saya semua itu.
Jadi lepas saja sedotannya,
cium gelasnya.
Susah amat.

Pagi ini,
tugas saya di hari ketiga seri blog ini adalah menceritakan benda dalam ruangan saya.
Berhubung dari pagi sampai malam sekali saya di ruang kerja kantor,
ya inilah ruang yang paling familiar untuk saya.
Ruang yang terbatas luasnya.
Kanan kiri saya adalah ruang anggota tim yang lain,
ada satu pintu dari kaca,
dan dua jendela besar di depan dan belakang saya.
Kadang silaunya minta ampun. Kecuali kalau sedang mendung.

Di ruangan saya,
tidak ada satupun foto.
Tidak ada foto saya,
tidak ada foto keluarga saya,
tidak ada foto dia yang dicinta.
No.

Meja saya biasa saja.
Tipe meja-meja olimpik yang iklannya dulu sering waktu saya masih jauh lebih muda dari ini. ‘Sewaktu’ mungkin dengan gencar-gencarnya sepeda famili.
Kursi saya satu set juga biasa saja.

Ada satu set speaker.
Printer. Korek api. Banyak sekali kertas. HT (radio transistor). dan tisu merk Nice.

Karcis tol, kertas bon bensin,
beberapa map yang belum saya lihat,
dua bendel berkas yang perlu diparaf,
kalkulator, pulpen merk standard biasa dua warna, biru dan hitam,
dan entah kenapa saya ternyata punya alteco di bawah kertas-kertas bensin tadi.

Kopi dalam gelas tadi,
walaupun vital sekali memang efeknya untuk saya,
tapi sebenarnya bukan bagian dari ruang ini.
Karena dia tidak lekat dan diam dalam jangka panjang disini.

Dalam sehari, saya bisa ‘disajeni’ es kopi lima gelas, atau by request.
Bukan kopi-kopi mahal,
bukan kopi yang harus diseduh dalam temperatur dan alat khusus.
Bukan juga kopi yang segelas harganya sama dengan indomi sekarton.
Kopi biasa,
yang lahir dari bungkusan sachet yang eceran seribu lima ratus.
Bisa jadi juga diseduh dari termos biasa yang sudah hilang kemampuan pertahankan panas air didalamnya.
Kopi yang seperti itu,
ditambah beberapa bongkah es batu.
Cukup untuk ‘perpanjangan’ nyawa saya sehari.

Rasa cukup yang ditimbulkan,
pemuasan adiksi yang sudah terjadi sejak satu setengah dekade,
yang dipenuhi dalam segelas (atau lebih) kopi dingin,
kata mama saya, harus segera dikurangi.
Minum kopi jangan kaya poligami,
segelas aja sehari.

ya.. ya..

Advertisements