Tags

, , , ,

tumblr_mhjwn9iWvb1r03m0qo5_500

… the devil doesn’t come dressed in a red cape and pointy horns. He comes as everything you’ve ever wished for … — Tucker Max, Assholes Finish First.

Day 1: Re-write a classic fairy tale.

Aku adalah satu diantara sembilan. Tujuh putra dan dua putri.
Satu sebelum bungsu. Anak laki-laki terakhir.

Kalau kau tanya ‘bagaimana aku ini’ kepada saudaraku semua,
pasti dijawab aku ini pemalas.
Menurut mereka memainkan seruling adalah hal bodoh kedua setelah bermain kecapi. Padahal untukku, itulah yang membuat pagi lebih indah, dan malam tak begitu sepi.
Padang rumput seluas ini, domba sebanyak itu, bayangkan saja betapa bisa membosankannya semua rutinitas ini kalau dipikir-pikir. Pagi memandikan, menyikat, membawa ke padang rumput, menemani mereka meladang, membawa pulang. Begitu saja terus mengikuti matahari terbit, matahari tenggelam.

Pernah kudengar soal putri raja yang cantiknya setengah mati.
Sudah banyak yang mencoba taklukkan, tapi tak pernah bisa.
Alasannya kenapa, ya manalah kutau. Cuma putri itu saja yang tahu.
Tapi optimis. Suatu saat nanti, anak ingusan tak ada harganya ini pasti punya istri cantik. Cantik, bukan antik.

Matahari mulai naik, ayah datang tiba-tiba ke ladang. Domba-domba kami merangsek maju mendekati ayah. Kangen mungkin dengan pemilik asli. Bosan digembalakan abg ingusan.

Dia menyuruhku pulang. Mengepak beberapa barang. Yang sebenarnya tak bisa disebut hanya beberapa. Karena ayah nampaknya tidak hanya sedang memastikan ketiga putranya disana tidak kelaparan, namun juga memastikan kepala pasukan dan beberapa prajurit berpangkat ‘menjaga’ anaknya pulang dengan aman dan bernyawa. Bagaimana tidak, kudengar raksasa itu telah berdiri dan menantang lantang kepada pasukan kami selama hampir empat puluh hari.
Ah, kau bayangkan sajalah, empat puluh hari, dan satu persatu dari pasukan kami dibasmi mati.

Siang mulai terik ketika aku sampai ke medan perang.
Pasukan sudah bersiap semua. Kuhampiri kakakku, kuberikan semua bekal yang dititipkan kepadaku. Kuhampiri kepala prajurit dan kutunjukkan padanya bekal dari ayahku. Sisanya kuberikan semua pada kawan-kawan kakakku yang makan dengan rakus.

Berdebum-debum raksasa itu. Sudah terdengar dari jauh memang kalau dia yang berjalan. Langkah yang besar dan berat. Seperti orang hebat.

Berdiri dia dalam pose yang sama, khas dia.
Berteriak dia dalam bahasa yang sama. Bahasa raksasa yang tak bertuhan.
katanya :
“hai kalian, orang-orang yang bertuhan,
bukankah aku cuma satu, dan kalian beribu-ribu. Dimana keadilannya. Tak percayakah kalian atas kuasa tuhan kalian, sehingga perlu kalian atur barisan dan senjata untuk mengalahkanku?
Tidak beranikah salah satu dari kalian maju dan menjadi lawanku?
Tidak beranikah salah satu dari kalian bangsa bertuhan maju dan menjadikan bangsaku tunduk menjadi budak kalian, hai kalian bangsa bertuhan?”

Panas hati.
Tuhan yang kusembah dianiaya dalam kata-kata.

Kutanya kanan kiri.
Apa hadiah kalau ada yang kalahkan dia.
Seorang putri cantik yang di istana jadi istri.
Bebas pajak seumur hidup.
Artinya : istri cantik, uang banyak.

Kuminta restu Tuhan dalam hati.
Kuminta ijinNya, karena akan kusaksikan kepada mereka bahwa Tuhanku dashyat.
Entah darimana datang nyaliku.

Tak ada yang mau maju. Tak ada yang berani maju.
Senyap sekali, sampai detak jantungpun terdengar.
Maka bisik-bisikku kepada sebelahku, bahwa akan kuhajar raksasa itu dalam nama Tuhanku, kencang sekali jadinya.

Aku dipanggil raja.
Raja yang ragu-ragu. Dan aku yang tak tahu malu.
Baju zirahnya dipakaikan kepadaku. Just in case, nanti lecet-lecet lawan raksasa. Demikian prajurit mencemooh keyakinanku.
Kutanggalkan baju zirah itu. Aneh rasanya. Kaku, tak bisa bergerak leluasa.

Kupakai apa yang melekat dibadan saja.
Kuambil lima batu kali yang licin permukaannya, kugenggam.
Sejataku cuma satu : ketapel.
Mirip tongkat kayu, karena itu kurang lebih cuma dahan yang terpotong.

Raksasa itu melolong-lolong seperti haus darah.
Marah dan murka ketika tahu lawannya adalah aku.
; “anjingkah aku, maka kau akan melawan aku dengan tongkat kayu?”

we didnt have a good laugh on his joke, btw.

Dia terus menyumpah-nyumpah.
Mengata-ngatai Tuhan yang jadi tujuan penyembahanku.

Kubalikkan semua,
merangsek aku maju, dalam nama Tuhanku,
kuambil sebutir batu,
kulangkahkan lariku sekencang mungkin ke arah pasukan mereka,
kugunakan gundukan batu sebagai landasan lompatan,
lompat setinggi yang aku bisa,
kulontarkan batu tadi sekuat tenaga.

Raksasa itu masih berlari,
lalu terhuyung,
tumbang,
dengan dahi berlubang.

Kuambil pedang dari tangannya.
Dengan senjatanya,
kupotong lehernya.
Naik aku ke badan raksasa itu,
Kuacungkan kepalanya,
tinggi-tinggi kuangkat,
sebagai bagian dari pernyataan kemenangan.

Ada sembilan anak ayahku.

Eliab. Abinadab. Simea. Netaneel. Radai. Ozem. Zeruya. Aku. Abigail.

Raksasa tadi bernama Goliath.

Namaku Daud.
artinya yang terkasih.
beloved.

Kisah ini,
salah satu dari sejuta lain,
yang jadi bukti,
betapa sayangnya Tuhanku padaku.
Kasihnya untukku,
gak pake matematika,
atau hitung-hitungan laba rugi.

Empat puluh tahun kemudian,
baru aku tahu,
‘lawan’ dan ‘perjuangan’ terbesar dalam hidupku bukan Goliath.

Perempuan yang bukan istriku.
dan suaminya, prajuritku, yang kupasang di barisan paling depan. Merekalah ‘perjuangan’ itu.
Aku,
bukti kasih Tuhan untuk negeri ini empat puluh tahun lalu,
sedang merencakan kematian dari suami perempuan yang kuingini.

Rencana kematian.
Dari yang dulu dipilih Tuhan.

“But the Lord said to Samuel, “Do not look on his appearance or on the height of his stature, because I have rejected him. For the Lord sees not as man sees: man looks on the outward appearance, but the Lord looks on the heart.” – 1 Samuel 16:7.

Dari banyak kisah di Alkitab, yang mungkin waktu sekolah minggu kita anggap sebagai dongeng belaka. Kisah ini adalah salah satu dari banyak kisah (termasuk Yunus, Ayub, Daniel, dan Yohanes Pembaptis) yang selalu saya kagumi.

Sekedar mengembalikan memori masa kecil, dimana saya duduk pada suatu minggu pagi. Mendengarkan cerita ini, ditemani beberapa ilustrasi warna warni.

Advertisements