Tags

, , , , ,

tumblr_mjo84xYDqC1qe31lco4_500

To love at all is to be vulnerable – C. S. Lewis.

Seorang pemuda mematikan alarm,
bangkit dari tempat tidur, meregang badan sekali dua kali,
lalu bangkit untuk mandi.

Menyetel shower dalam takaran paling deras dan dingin yang memungkinkan.
Menyikat gigi, lalu menenggak seperempat gelas obat kumur dan memuntahkannya pada wastafel berwarna putih.
Memakai pakaian berwarna cerah, celana berwarna cerah, kaus kaki berwarna gelap, dan sepatu berwarna cerah.
Memasang dasi bermotif menyenangkan, mengikatnya dalam beberapa gerakan singkat. Mengencangkannya.

Dalam gerak singkat,
ia mengisi kantongnya dengan lima ribu cadangan senyuman.
Memastikan semua dalam keadaan baik dalam sekilas pemeriksaan.
Lalu bergerak keluar kamar,
keluar ruang, dan mengunci pintu.

Seorang pemuda berjalan dengan siulan dan ujung rambut yang sedikit berkibar.
Langkah langkah pasti yang tak diragukan lagi punya irama.
Disapa temannya dengan ‘kau kelihatan bahagia sekali..’
dan menjawab dengan senyuman terbahagia versi manusia,
dan berkata ‘i am..’

Meletakkan tas pada meja,
menyapa beberapa rekan dengan senyuman terbahagia versi manusia, yang sama,
dan tak berkurang kadarnya.
Menyeduh kopi dan menyesap sedikit demi sedikit,
mengakhirinya dengan senyuman versi yang sama.
Menghidupkan komputer, dan bekerja, bekerja, bekerja,
sampai tiba waktu makan siang untuk seluruh indonesia bagian barat.

Pukul dua belas siang,
ia akan menyajikan senyuman terbahagia versi manusia yang sama,
kepada semua orang yang berpapasan dengannya.
Menjadikannya orang yang bisa jadi akan dinobatkan sebagai orang terbahagia di dalam lingkungan tersebut. Bisa jadi.

Lalu tiba saat pulang,
elevator menjadi tempat yang tepat untuk melepaskan beberapa senyuman dengan versi yang sama tersebut. Elevator, dan terus sampai dengan setengah blok setelah kantor itu berlalu.

Tiba pada suatu kedai kopi,
dia akan melancarkan senyuman yang sama,
yang sekarang tinggal bersisa dua ribuan.
Lalu semua akan balik memberikan dia senyuman yang mirip, atau diusahakan setara bahagianya. Setidaknya begitu protokolernya. Mereka dibayar untuk itu.
Dan lagi-lagi dia disapa dengan ‘bahagia sekali tampaknya hari ini..’
dan seperti jawaban yang sudah diprogram,
dia akan selalu menjawab ‘i am..’
diakhiri dengan senyuman terbahagia versi manusia yang sama.

Telepon berbunyi, dan ibunya menghubungi dengan video call,
dengan mudah saja, dia memberi senyum bahagia terbahagia yang lebih bahagia,
menghabiskan dua kali kalau dihitung secara matematik bila dibanding dengan senyum terbahagia yang dari pagi tadi dia bagi-bagi ke dunia.
Ibunya membalas dengan senyum khasnya dan berkata ‘you look so happy today..’
dan selancar-lancarnya dia menjawab ‘i am mom..’
dan mengakhirinya dengan senyum bahagia yang ia kerahkan maksimal.

Membayar tagihan untuk kopi dan makan malam,
menjawab beberapa pertanyaan, menyapa dan memberi salam,
dengan senyum bahagia versi 1.0 yang tersisa.

Berjalan pulang. Lalu berhenti melihat katedral.
Masuk.

Seorang pemuda dengan beberapa puluh senyum bahagia yang tersisa,
duduk di barisan depan, berlutut dan memberi hormat,
kepada yang tak pernah dikunjunginya lagi pada hari minggu,
atau hari besar apapun kecuali jika sedang bersama keluarganya yang jauh disana.
Dia dengar, atau merasa dengar ruang bergema ‘so you happy?’
dia tersenyum,
tersenyum, menengadah ke atas,
melihat ke langit-langit berlukiskan awan,
tersenyum, dan masih tersenyum,
dan berkata ‘im not..’

Memutuskan pulang tanpa penyelesaian,
berjalan tanpa angin di sela sela ujung rambutnya.
Masuk ke ruangan. Menghempaskan badan ke sofa berwarna cokelat susu.
Membuka layar komputer, menyentuh ujung dagu.
Ragu.
Klik. Klik. Klik.

Lalu teknologi membuat ‘senyumnya’ sudah diupgrade ke versi 2.0
dan dia beli banyak sekali. Senyum 2.0 itu, dia beli banyak.
Banyak sekali.

Untuk esok. Katanya.

Sampai bahagianya kembali.

Advertisements