Tags

, , , , , , ,

a1_stilleven

A woman whose smile is open and whose expression is glad has a kind of beauty no matter what she wears. – Anne Roiphe.

Day 9

Di dunia yang serba reaktif dan instan ini,
saya mengamati bahwa memang manusia itu satu sama lain akan selalu saling serang. Baik secara langsung, yang nampak, maupun secara tak langung, bisa jadi tak nampak, bisa jadi lewat manusia lain.

Dan karena dunia ini sangat reaktif,
maka wajar kalau akhirnya kita percaya pada apa yang namanya karma.
Hukum balik, setelah timbal.
Hukum akibat, setelah sebab.
Reaksi dari aksi.

Katanya orang baik akan punya karma baik.
Tapi apakah analoginya benar, kalau saya bilang, orang baik, karma baik, identik mati cepat, karena dunia ini jahat?
Itu pemikiran sepintas lalu yang tak ada bukti otentik memang.

Bukti bahwa dunia jahat?

Menurut saya ada, dan dilingkungan kita juga terjadi.
Pengadilan-pengadilan kecil. Yang dibuat oleh mayoritas, kepada minoritas.
Dibuat oleh ‘yang lebih‘ kepada ‘yang kurang’, atau sebaliknya.
Pengadilan-pengadilan kecil ini membuat mereka merasa kuat sebagai kelompok, memperbaharui hak mereka dengan kapasitas yang lebih kuat karena berdiri diatas sesuatu yang mereka anggap ‘itulah benar dan selayaknya begitulah yang terjadi’.

Pengadilan kecil yang membuat seorang anak yatim merasa tak pantas mengambil susu instan sumbangan CSR dari kantor saya.

Begitu gilanya pengadilan kecil di lingkungannya, sampai ketika semua kotak dibagikan, dia malah berlari menjauh dan sembunyi di toilet mushola.
Begitu sakitnya pemikiran orang, bahkan ketika saya tanya itu siapa, ada ibu paruh baya yang jelas lantang bicara dia anak haram dan ibunya minggat.
Begitu hebatnya komunitas, bahkan jiwa juga diadili haram.
Hasil dari buah maksiat.
Reaksi dari aksi ibunya.
Karma.

Itukah karma?

Hari ini kami CSR,
dan ada beberapa karton susu yang siap dibagi untuk sekedar membantu sedikit supply nutrisi.
Hari ini saya ingin berdua dengan anak itu,
ketawa ketawa menertawakan dia yang belum pernah minum susu karton pack 1 liter langsung dari tempatnya.
Hari ini saya akan cari jalan, supaya anak itu pindah ke panti asuhan di tempat yang saya tahu.
Sekolah. Disayang, bukan sekedar diberi makan.

Tapi sekarang saya ingin berdua dulu,
makan kentang goreng gerobakan yang kata dia paling enak di dunia.
Duaribu limaratus saja.
Itu bahagianya.
Saya ikut saja.
*nyengir*

Advertisements