Tags

, , , , , , , , ,

tumblr_m48s8tS5Wy1qgn6feo1_500

In every conceivable manner, the family is link to our past, bridge to our future. – Alex Haley.

Day 8

Kabar tentang kepindahan saya ke Tangerang akhirnya saya blow up juga. Saya jadikan bahan sebagai briefing pagi beberapa hari lalu. Harusnya memang sejak saya terima kabar saya beri tahukan saja, tapi bagaimana lagi, saya rasanya masih belum terima dengan nasib itu.

Pindah ke Tangerang, dari Bekasi, berarti pindah dari ujung ke ujung.
Dari timur ke barat. Mirip lagu rohani ya, sejauh timur dari barat.
…..oke, kita skip yang random-random.

Jadi begini, saya beritahukan mengenai keputusan manajemen tersebut, dan sekarang saya diperlakukan seperti orang mau mati.
Ya, ini real, bukan bohongan.
Kemana mana sekarang saya ditanya, mau kemana..
Mereka lebih suka membuntuti saya kemanapun saya, meskipun saya kadang hanya berputar-putar disekitaran kantor.
Mereka melihat saya dengan tatapan sebagaimana kau melihat anak anjingmu mau dianastesi, suntik mati.
Singkatnya, semua yang saya mau, pasti diberi.
F*ck.

Bukan begini toh harusnya.
Saya pindah, memang saya akui, ini adalah keluarga saya.
Apa yang saya bangun dari Juli lalu adalah keluarga saya,
dan ada rasa tak rela untuk meninggalkannya.
Tapi toh saya belum serius mati.

Saya masih ingin nanti datang lagi kemari,
Seperti yang dibilang gadis-gadis penghuni bilik admin,
saya harus kesini nanti Valentine,
bawa cokelat, sebagai bayaran dari kerja sampingan mereka meniup-niup kopi saya.
Seperti yang dibilang oleh para tim salesnya,
bahwa saya harus kemari nanti Imlek,
untuk memberi mereka semua angpau,
yang tentunya bisa saya counter-attack dengan ngeles bahwa saya toh belum nikah, jadi pamali ngasih angpau.
Kata lain, pelit.

Saya masih mau kemari lagi,
saya ingin nantinya bertemu dengan keluarga saya yang disini,
menyaksikan mereka bermetamorfosa,
bukan lagi sebagai staff mungkin nantinya, saya harap,
tapi jadi ‘kepala’.

Kepala, bukan ekor.
Seperti terjanji.

Advertisements