Tags

, , , , , , , , , ,

ecf748500ecb8b72fcff89fecf03-post

Happiness often sneaks in through a door you didn’t know you left open. – John Barrymore. 

Day 5

Ada surat edaran mengenai mutasi saya ke Tangerang.
Tempat baru, suasana baru, tim baru, otomatis kos baru, mungkin rasa kopi baru. Yang jelas ada tantangan baru, petualangan baru. Bisa jadi kesenangan baru, atau kesusahan baru. Tergantung dimana saya mau meletakkannya kan.

Masalah tentang hal-hal baru itu timbul karena biasanya kita sudah sedemikian terikatnya dengan hal yang kita punya saat ini. Dan memang selalu itu yang terjadi. Keterikatan itu kills. Seperti adiksi.

Hidup seperti nomaden begini, membuat saya kadang berpikir, sudah sejauh mana saya menata masa depan saya. Since saya saat ini tidak berencana untuk hidup berkeluarga, atau bervisi tentang adanya orang yang diajak untuk hidup berdua sampai mati. Point utamanya adalah saya. Egosentris kelihatannya. Tapi coba pahami posisi saya. Dalam kondisi yang begini, akan sangat tidak bijak hidup secara delusional, untuk punya manusia lain yang bisa berbagi sampai mati. Ya kan.

Sejauh apa saya sudah menata hidup saya. Menyusunnya dari sejak saya mampu membeli satu bata, lalu bata yang lain, lalu semen, lalu kuas, dan catnya. Sejauh mana saya membangun saya untuk mampu bertahan setidaknya sampai saya tua, mati, dan tak menyusahkan manusia lain.

Saya menghitung.
Saya mengkalkulasi hidup saya.
Saya mengkalkulasi berkat saya. Saya membuat berkat seperti ilmu statistika.
Dan itu tidak selayaknya dilakukan.

Yang sepantasnya saya lakukan adalah berbuat, bekerja, berdoa. Berharap yang terbaik untuk masa depan saya. Karena bisa jadi makhluk yang sedang menjalani masa depan saya di kehidupan paralel lain membutuhkannya.

Hari ini saya mengerti,
bahwa saya belum melakukan apa yang terbaik untuk saya.
Apa yang terbaik untuk saya, dan menghasilkan apa yang terbaik untuk keluarga saya.
Untuk kedua orang tua saya.
Untuk adik-adik saya.
Untuk mereka yang peduli kepada saya.

Dan saya ingin itu.

Saya ingin membangun hidup saya.
Mentally, financially, spiritually, whole heartedly.
Memang susah karena saya mulai dari batas yang tipis dengan nol.
Minus malah kalau bisa dibilang secara mental.
Tapi kalau bukan dari saat ini,
kapan lagi?
Saya toh harus bisa berdiri diatas dua kaki sendiri dalam tiap aspek itu kan. Mandiri. Sepenuhnya bergantung kepada saya sendiri. Dari saat ini sampai mati nanti.

Saya dikejar waktu.
Saya dan kamu,
selalu dikejar waktu.

Advertisements