Tags

, , , , , , , , ,

11508a2d1fee3c536c50ce5913ee-post

A family can develop only with a loving woman as its center. – Karl Wilhelm Friedrich Schlegel.

Day 3

Paman saya meninggal beberapa hari yang lalu.
Paman itu adalah kesayangan mama saya.

Saya dikabari via telepon. Saat itu saya sedang rapat, dan kurang bisa membagi konsentrasi, jadi saya menjawab hanya dengan beberapa kata yang terpikir oleh saya saja. Saya tidak tahu, mama saya sedang down sekali. Menangis dari pagi.

Setelah rapat selesai, saya pulang, dan sambil menyetir di tol, saya menelepon mama saya. Menyambung cerita tadi.

Paman itu umurnya 49. Anaknya dua. Dua-duanya masih SD. Dan istrinya murni bersandar pada dia, sepenuhnya. Jadi singkat cerita, mama saya datang langsung ke rumah duka. Mendapati pelukan-pelukan erat yang tak kunjung dilepas oleh keluarga kecil itu. Gagal jantung.

Keluarga mama saya memang kurang harmonis dengan terminologi gagal jantung. Mayoritas mereka, berakhir disana. Pada usia dibawah 60 tahun. Saya takut. Sejujurnya, itu adalah ketakutan terbesar saya. Diam-diam.

Anak paman saya yang besar, meloncat masuk ke dalam peti. Adiknya ikut meloncat masuk. Bicara kepada papanya itu, “kalau enggak ada papa, nanti aku gimana pa.. nanti aku sekolahnya gimana, aku sama siapa pa..”
Adiknya ikut teriak, “nanti mama enggak boleh kawin lagi ya pa.. nanti aku ke gramedia sama siapa pa..”

Mati. tak berbalas. tak ada yang menjawab.

Begitu ya..

Banyak kata yang mungkin belum sempat diucapkan anak-anak itu ke papanya ketika papanya masih bisa dengar dan jawab, kini diucap. Hal-hal sepele yang bisa membuat mama saya makin menangis sampai lemas. Litteraly. Malamnya mama saya harus ke IGD karena badannya lemas sekali. Tidak sampai rawat inap, hanya infus dan suntik, lalu pulang memang. Tetap saja. Saya kuatir.

Mama saya, lalu dengan pendapat keibuannya, menekankan kepada saya, bahwa tidak akan selamanya dia ada, jadi saya harus mulai bisa kontrol makanan saya yang sehat-sehat, harus bisa kurangi yang jelek-jelek, seperti rokok dan begadang. Kerja saja di semarang. Sambil nungguin mama. Dan banyak lagi.

Semua masih bisa saya dengar dan usahakan terjadi, sampai dia bilang..“kalau bisa jadilah normal.. mama kadang bingung kalau banyak ditanya sana sini..”
Mama saya bilang sambil menangis. Saya tertegun.

Saya merasa ditolak oleh tempat kelahiran saya.
Penyakit saya kambuh. Saya jadi down. seketika.
Saya kira perjuangan saya sudah sampai di setidaknya 80%. Saya salah.

Mimpi orang tua memang kadang beda dengan apa yang kita punya.

Saya tertegun, mama saya diam,
lalu saya hanya bisa bilang “kalau bukan mama yang terima aku yang begini, siapa lagi ma..”

Mama saya menangis lagi sampai tak bisa bicara, sambil berkata banyak sekali maaf. Saya sudah hilang di dalam otak saya sendiri dan pemikiran-pemikiran absurd saya.

“aku sayang mama, tapi aku bukan anak yang sempurna buat mama.. aku minta maaf ma.. aku minta ampun ma.. aku gak bisa kaya sepupu-sepupuku yang hidupnya normal, kaya daniel, kaya yopi..”

Mama saya berusaha menenangkan diri, lalu bilang “kalau kamu disini nak, mama peluk, gak mama lepas, dunia mau bilang apa, kamu anak mama..”

Saya leleh.

Saya lalu mengerti.
Sebagaimanapun saya,
saya memang punya satu keinginan,
saya ingin membahagiakan orang tua saya.
Dengan apa yang saya punya dan bisa.
Dan semoga dengan apa yang saya belum bisa.
Saya ingin jadi ‘hadiah’ untuk orang tua saya,
bukan beban.

Saya akan berusaha,
walau mustahil itu akan terlaksana sempurna.

Advertisements