Lazarus

Tags

tumblr_static_tumblr_static_csmfl66rdhk4c8wkwo00gkw08_640

No quote for today.

I will make myself proud.
Not begging for love, or companion, or attention; or else.

I am not gonna be so needy,
and curious,
and shit.

I will make myself proud.

Lost a job before,
Lost a father few years before,
Lost few lovers, or so they called themselves long a go,
Lost few friends, for i never make contact,
Lost my self, changing,
and then losing her,
Perfect life,
isn’t it?

Battle ground.
Every phase is a battle ground.
and now i need a better weapon to defeat my self stirring stupidity.

I have walk this far.
Thirty five fucking stupid years.
And every break up happen after or near my birthday anyway.
so birthday is not my favorite time of the year.

No pity party.
No more begging.
Have a dignity. To stand and look at the mirror, as a strong person.

I am mad at myself,
for being so silly.
Wishing upon a star and shit about love and shit.
I got to stop daydreaming, and start living.

Living a lie, with all the people that doing it daily.
Posting on everywhere about how they enjoy this and that,
but when you sit in a place,
you see people goes together, sit surrounding a table,
and hold their cellphone, like it was their life inside.
They communicating with the people who is not in the table,
or is it just my another fucked up mind?

I will stop pleasing people,
just to be kind,
just to be nice,
just to be, all those stupid tumblr quotes, no.

I will be modern human. Compassion, number five.

Number one? Still don’t know, i’m observing now.

Feelings vs brain,
wont work.
I’ll just see with eyes now,
not hoping for anything.
What’s in my eyes, its fact.
No more faith.

Oh God, This Bat Cave is so depressing.

Analogy,
i have to stop.

Prediction,
I quit.

Reasons, questions, and other stupid begging things,
i’ll stop.

I will live.

As if i am Lazarus.

 

Globe

Tags

, , , , , ,

tumblr_mj8mz5C8Qs1qbqv4mo1_500

“A day without sunshine is like, you know, night.” ― Steve Martin.

Saya mengaktifkan fesbuk.

Luar biasa.

Bukan untuk bersosialisasi.
Hanya sekedar dapat nyawa tambahan dari game yang saya tekuni.

Tapi fesbuk memang mengagetkan.

Berubah ya,
jauh,
sejak terakhir saya ada didalamnya.

Orang-orang menjadi lebih aktif,
lebih tampil,
lebih ingin diakui.
Entah bagaimana,
lebih jualan..

Lalu saya jengah,
dan saya uninstal.
Untuk kesekian kali.

Meng-uninstall sosial media.
Because i’m not that social.

Globe saya,
sudah lain cerita.

Hanya kerja,
anak,
dan kangen saya ke ibunya anak-anak.

Cukup sepertinya.

Famous, isn’t my muse.

Jas Jus

Tags

, , , , , ,

tumblr_m5kxatzDbN1qhkmt3o1_1280

“Why is it,” he said, one time, at the subway entrance, “I feel I’ve known you so many years?”
“Because I like you,” she said, “and I don’t want anything from you.”
Ray Bradbury, Fahrenheit 451.

I’m not sober.

Tadi siang saya berkelana,
mengantar dan menjemput laundry,
membeli bahan makanan untuk anak-anak; ayam,
membeli bergalon-galon air mineral,
pulsa listrik, dan lain-lain.

Saya sempatkan untuk mengintip rumah yang diiklankan untuk disewa.

Bali hiruk pikuk dengan segala lalu lintasnya yang padat;
tapi di mobil, saya tenggelam oleh Banda Neira.
Sampai jadi debu,
pernah saya perdengarkan lagu tersebut kepada ibunya anak-anak.

Saya tidur dengan bantuan,
bantuan apapun yang berkenan, entah alkohol, entah obat tidur.
Saya harus tidur, kan..

Malam sebelum ibunya anak-anak pergi dinas luar kota,
saya mampir ke tempat dia.
Tidur disana.

Tidur saja,
berdua,
bersebelahan,
tangan saya, tumpuan kepalanya.
Kecup curi-curi yang rupanya dari dulu tidak pernah ketahuan,
kecuali di dahi,
dan senyum saya dalam tidur,
saya pikir cukup bercerita tentang arti bahagia.

Nafasnya dalam tidur,
tangannya yang sesekali terdampar di pipi saya,
dan lembut kulitnya,
ingin saya cium,
di bibir,
tapi pasti akan membuat bangun,
dan kena tabok.

Saya jatuh cinta lagi,
untuk kesekian kalinya,
kepada perempuan yang sama,
ibunya anak-anak.

Senyumnya,
manis.

Suaranya,
candanya,
tawanya,

jiwanya.

dia.

kesayangan saya.

Tapi saya cuma butiran jas jus.

Pixilated

Tags

, , , ,

tumblr_lpzyuhxc801qg0uq1o1_500

“Nakata’s empty inside… Do you know what it means to be completely empty? Being empty is like a vacant house. An unlocked, vacant house. Anybody can come in, anytime they want. That’s what scares me the most” ― Haruki Murakami, Kafka on the Shore.

Kadang saya ingin pergi,
sama seperti kamu.

Pergi dan menjalani hidup; melajang.

Tanpa adanya bocah;
Tanpa memikirkan rumah;
Dan segala tetek bengek hidup saat ini.

Pergi saja.

Mungkin saya akan kost di lain daerah; atau memilih tinggal di mess;
mungkin saya akan nongkrong di suatu tempat, membuka laptop dan menulis hal-hal baik atau buruk yang terjadi pada hari itu; mungkin saya akan meneliti struktur tegangan baja dalam kebutuhan tertentu; mungkin saya akan.. berbeda.

Saya akan bangun pagi; dengan alarm, bukan karena si bocah baby bear;
saya akan langsung mandi dan berpenampilan rapi, menarik, wangi, dan on time; tidak membuatkan sarapan dulu, menunggu mereka selesai bermain, memastikan baby bear ee, dan memastikan mereka cukup minum.
Saya akan pergi ke kantor dalam irama menghentak atau mendayu-dayu di radio; tanpa memori tertentu terhadap lagu.
Saya akan sarapan atau sekedar makan pisang; karena saya harus memilih cinta lagi.
Saya akan berlatih tinju; karena saya perlu massa badan yang padat yang bukan didapat dari mengangkut galon air kebutuhan rumah tangga.
Saya akan melangkah tegap, berbicara lantang tanpa tedeng aling-aling, tidak permisif dan terlalu lembek; karena saya hanya ada sedikit sisa empati.
Saya akan … berbeda.

Tapi saya mungkin tidak penuh.

Sebagian dari saya akan tetap menyimpan kamu;
menyimpan baby bear;
menyimpan koleksi ingatan.

Saya mulai mengosongkan rumah.

Mengalihkan semua pada para pembeli yang berminat;
Dengan harga dibawah rata-rata yang masih masuk akal.
Saya berlomba dengan diri saya sendiri,
untuk mencapai tingkat dewasa yang berbeda,
tingkat kematangan hidup,
satu level lagi.

Supaya lain kali siapapun pergi,
Saya siap.

Karena dalam pergi,
bukan sekedar akumulasi rasa kehilangan dari jiwa yang pergi;
tapi ada hilangnya mimpi;
Ada surut dalam hati pasti,
untuk bisa lagi bermimpi.

Dan waktu mungkin berputar sekali lagi,
menjadi tak terbatas,
dan berulang-ulang,
lalu saya kembali ke titik awal.

Mencari saya;
yang cukup dengan saya.
Sendiri.
Satu.

Genesis

Tags

, , , , ,

tumblr_mgqch9ncTa1qzdzabo1_500

“For the universal will constantly torture him and say, ‘You ought to have talked. Where will you find the certainty that it was not after all a hidden pride which governed your resolution?” ― Søren Kierkegaard, Fear and Trembling.

Seperti membaca kitab suci yang sudah setengah jalan,
lalu kembali ke Genesis.

Begitulah roda berputar.

Sekilas, sepintas,
saya mencoba rekoleksi atas apa yang pernah saya tulis disini.
Mengenai ‘kutukan empat tahunan‘; mengenai perjalanan memulai di Bali;
mengenai datangnya gembul bulu coklat di hidup kami;
dan mengenai jatuh cinta.

Hidup itu mirip lagu dangdut;
atau lagu dangdutlah yang ternyata menginterpretasikan hidup secara lugas.
Pahit yang lugas.
Manis yang lugas.
Yang suam-suam kuku, atau sedang-sedang saja juga ada.
*nyengir*

Apa yang terjadi dalam deret waktu dalam rentang hampir lima tahun ke belakang;
tidak saya lupa.
Saat ini, bahkan, semua mengalir kembali.
Satu demi satu, datang serupa kilatan bayangan tiba-tiba.
Tanpa peringatan.
Hanya karena aroma tertentu, warna tertentu, motif baju tertentu;
dan nama tertentu.

Banyak harapan saya terhadap ilmuwan masa depan;
seperti yang pernah saya ungkapkan pada teman saya yang ilmuwan, si koh bro.
Apakah ilmuwan sebegitu tidak materialistiknya, sampai-sampai terabaikan;
kebutuhan utama manusia akan obat-obatan tertentu;
yaitu obat melupakan.
Atau setidaknya, terapi memilih memilah memori.

Karena jadi gila bukan pilihan;
tetap waras kadang terlalu berat upayanya;
dan science.. should have answer on this.

Hidup bukan melulu soal cinta.

Tapi otak dicipta dengan sensasi dopamine yang dicari berabad-abad.
Dalam bentuk candu, dalam bentuk miras, dalam bentuk ganja;
dan dalam cinta.. wajah dopamine yang paling legal.

Mungkin itu mengapa saya terus gagal menghentikan saya mencari kamu.

Karena kamu candu.

 

Satu – Satu

Tags

, , , , ,

tumblr_mgjci5tOri1qzm97yo1_500

“At some point we all look up and realize we are lost in a maze.” ― John Green, Looking for Alaska.

Duduk, diam,
mempertimbangkan,
dan merencanakan.

Tentang pindah rumah;
mencari adopter;
menjual (hampir semua) perabotan;
mensortir baju;
membuang kertas-kertas tulisan saya yang tidak bermutu;
menyisakan satu anak,
lalu menghabiskan waktu dengannya,
dan memperbaiki diri sendiri.

Sekarang jam 2:48
kami dulu berdua,
empat tahun, delapan bulan.

I’ve lost my muse.
And i have to find life back.

Dari semua yang perlu saya lakukan,
semua harus saya lakukan dengan tepat, dan dengan cepat.
Desember sudah di depan mata.

Tiba-tiba kaki saya dingin.

Beginikah dunia berputar?

Episode’s

Tags

, , , , , ,

tumblr_mkl92hFoo01qf9tddo1_500

“You are the butter to my bread, and the breath to my life.” — Julia Child.

It takes two to tango.

untuk saling mencintai;
untuk saling berkontak;
untuk saling hadir.

Saya perlu waktu untuk bicara pada kepala saya sejak malam tadi.

Hari ini saya mengantar anak ke tempat dia biasa mandi dan cukur; grooming.
Lalu saya cuci mobil;
dan menyetir;
berputar; berputar; berputar.
Tidak ada tujuan berhenti dimana kecuali menjemput kembali anak saya.

Jalan macet sekali dimana-mana;
dan saya bicara panjang pada diri saya di dalam mobil.
Melalukan monolog yang dialog.

Mixed feeling.

Kadang ingin berhenti,
kadang ingin lari, saya kewalahan;
kadang ingin sadar dan berhati besar,
kadang …
kadang saya begitu marah,
kadang saya begitu jauh di dalam lorong gelap;
susah payah berjalan kembali keluar untuk menjelang pagi,
dan melakukan rutinitas dalam hari.

Saya semestinya berhati besar.
Mengetahui berbagai kelemahan saya,
bahkan saya bisa menilai, saya kalah sebelum maju perang.

Mendongak ke langit,
lalu melihat ujung kaki saya di bawah,
di atas tanah saya berdiri.
Dalam keseimbangan fisik sempurna;

Lalu nalar saya menasehati;
supaya saya jangan mempermalukan diri sendiri.
Berusaha dicintai oleh ibunya anak-anak kembali;

Saya hanya perlu berdiri,
semenit, lima menit, tujuh jam,
lima belas hari,
dua puluh tahun?
untuk tetap seimbang,
dan mengembalikan jiwa Bruce Lee di diri saya.

Untuk suatu saat bisa bangga dibacakan epilog;
dari entah siapa; mengenai hidup saya;
bahwa saya sudah datang, saya bertarung, dan saya menang.

Vanilla

Tags

, , ,

tumblr_lpunmnXZNK1qzc871o1_400

“A heart weighs more when it splits in two; it crashes in the chest like a broken plane.” ― Mitch Albom, The Time Keeper.

Seseorang dulu pernah berkata kepada saya;
hati-hati jatuh cinta.
Beberapa bulan, sebelum saya tertegun melihat ibunya anak-anak di sudut Tawan.

Dulu sekali,
pernah saya baca satu kutipan;
kadang cinta memang datang untuk kemudian dilepaskan.

Saya hanya tidak mengira,
kutipan itu semacam fakta.

Permasalahan yang datang berulang;
kesalahan-kesalahan saya yang berulang;
pengulangan-pengulangan yang menjenuhkan;
berujung pada satu titik sampai jumpa.

Hari ini,
Tiga puluh hari yang lalu,
ada dua puluh empat kaki di rumah ini.

Dua kaki saya,
dua kaki ibunya anak-anak,
dan masing-masing anak adalah empat kaki.
Kami, memiliki lima anak yang sehat, gembul, berekor, berbulu,
bermata binal, dan bertingkah aneh kadang-kadang.
Mereka menggonggong, bukan bergumam.
Dari sisi manusia, mereka adalah apa yang dinamakan anjing.

Hari ini,
lima belas hari yang lalu,
kami masih menonton televisi,
dengan siaran standar ala hiburan keluarga,
dan bercanda di atas karpet merah,
lalu pergi tidur,
dalam hangatnya satu-sama lain.

Hari ini,
saat ini,
saya duduk sendiri.

Di depan layar hitam yang berkedip lambat;
mencoba merunut kembali masa yang saya sia-siakan;
mencoba mencari senyum gadis di sudut Tawan tadi di dalam file-file sel otak saya.
Saya mencoba,
dan saya menemukan banyak yang tak terduga.

Bahwa kami pernah berjalan bersama,
di suatu pagi di pasar kota hujan,
yang kemudian berbuah seikat gerbera, enam tangkai warna-warni yang dibungkus koran.

Bahwa kami pernah ke kota kembang,
hanya dalam rangka jalan-jalan,
lalu gadis di sudut Tawan tadi masuk angin,
dan tiba-tiba saya jadi tukang pijat profesional.

Bahwa kami pernah melewati banyak hal.
Tapi belum pernah melewati ini..

Saya hilang.
Larut dalam malam.
Takut tidur dengan mimpi berulang yang sama,
setiap malam.
Berakhir dengan beberapa paracetamol,
hanya untuk tidur singkat,
dengan mimpi yang sama, yang lebih singkat,
lalu kembali menjadi kacung kampret,
hari demi hari,
sejak enam belas hari yang lalu.

Irama musik tentang cinta mengganggu saya,
aroma vanilla menghentikan langkah saya, hanya untuk mencari yang tiada.

Ibunya anak-anak..

Kesayangan saya.

Edisi Sup Ayam Kulit Rusa

Tags

, ,

enhanced-buzz-24366-1387647616-29

“I imagine a line, a white line, painted on the sand and on the ocean, from me to you.” ― Jonathan Safran Foer, Everything Is Illuminated.

Apa yang lebih menyenangkan dari ketidakharusan bangun pagi?

Ya, ketidakharusan bangun pagi,
ditambah dengan sesudah bangun pagi ada kopi dan rokok.
Tentu lengkap dengan edisi singkong rebus empuk,
atau roti bakar.

Apa yang lebih menggembirakan dari ketidakharusan bangun pagi,
sudah ada kopi, singkong rebus dan rokok?

Ya, ketidak harusan bangun pagi,
singkong rebus, kopi, rokok, ditambah dengan istri yang senyam senyum walaupun masih dalam daster tidur,
dan anak bangun dengan gembira tanpa ompol dan iritasi karena pipisnya sendiri.

Ada yang lebih lengkap dari itu?

Ada,
semuanya ditambah dengan penyedap rasa ala dunia.
Uang.

Uang,
menjadi passport, penyedap rasa, penambah selera hidup,
dan tentu tidak kalah,
menjadi sarana, prasarana,
bahkan untuk beberapa tipe manusia,
telah menjadi visi dan misi dalam hidup.
Baik dalam edisi jangka panjang, maupun jangka pendek.

Lalu,
jika sedang musim liburan,
tersedialah ketidakharusan bangun pagi,
singkong rebus, kopi, rokok, asbak, korek dan tetek bengeknya;
ditemani istri tersayang yang senyam senyum, menimang anak yang tidak sedang bergaul dengan iritasi urin,
dan punya uang 10 milyar,
kita bahagia?

Belum tentu.

Manusia seperti didesain susah bahagia.

Sudah dapat bonus tahunan; sudah dapat THR;
sudah punya asuransi kesehatan; sudah bergaji quarter digit atau lebih dari yang mampu dihitung kalkulator-pun belum tentu bisa bahagia.

Kok?

Karena uang-nya tadi itu..
cuma penyedap rasa.
penambah selera.

Ya kalau di-logika-kan memasak sup ayam.
Itu ajinomotonya.

Kalau airnya, mungkin memang akan matang.
Garamnya mungkin bisa ditambah.
Tapi kalau ayamnya busuk?
Apalah guna penyedap.

Seisi rumah menjadi busuk.

Analogi saya berjalan demikian.
Melihat beberapa manusia yang sepertinya telah menjadi kacang versi jawa;
atau boleh dikata ‘kacang lali lanjaran’; ‘kacang lupa kulit’

Kok?

ya bukan salah dua kelinci kalau sekarang banyak kacang tinggal kunyah.

Salah kacangnya,
kenapa mau ditelanjangi,
lalu dibumbu-bumbu-bumbu-bumbu aneka rasa.

Pikiran saya sedang liar.

Harus liar,
karena saya seolah seperti di hutan.
Harus dapat saya nyalangkan mata,
untuk tahu mana rusa mana singa.

Lalu kemudian saya perlu berkaca,
apakah saya rusa,
ataukah saya singa.

Natal kali ini,
tanpa perlu saya cerita,
ayah saya ada di doa.

Kemudian para rusa
dan para singa
lalu kacang-kacang tadi;
baik kacang yang masih menempel pada kulitnya;
maupun yang sudah ditelanjangi dan dikemas dengan barcode dan bumbu aneka rasa.

Mau kemana wahai saudara?

pesan saya cuma satu,
untuk semangkuk sup ayam;
saya mau ayam yang tidak busuk.
Tidak usah terlalu dipikirkan soal asin manis pedasnya;
saya hipertensi.

Koin

Tags

, , , ,

clouds05

My dad said to me growing up: ‘When all is said and done, if you can count all your true friends on one hand, you’re a lucky man.’- Josh Charles.

Saya ingin mengenal kamu.

Berjalan dalam sepatu yang kamu pakai,
melihat ke dalam kaca yang kamu susuri ketika menyisir rambut.
Merasakan air yang terteguk,
atau sekadar merasakan telunjuk kanan menghempas pelan abu rokok dari batangnya.

Untuk sekejab saja,
saya ingin mengenal kamu,
pa.

Bukan papa yang saya lihat secara kasat mata.
Bukan papa yang saya tahu dan rasakan era pemerintahannya.
Bukan papa yang saya alami kasih sayangnya.

Tapi merasakan sepenuhnya apa yang papa rasakan,
ketika menjadi papa, terutama, menjadi papa saya.

Dari situ mungkin,
saya akan bisa belajar,
mengerti latar belakang pemikiran papa,
memahami keputusan papa,
menghormati limpahan sayang yang diberikan;

lalu mungkin,
pada momen yang bersamaan,

papa bisa merasuk ke dalam saya,

berjalan di atas sepatu biru yang saya gunakan,
menyelongsongkan tangan ke kemeja garis lengan panjang yang saya pakai,
memasang kaos kaki,
bercermin beberapa detik,
mengucap salam sampai jumpa nanti malam pada pelor dan nona hidung turki,
merasakan menjadi saya, bernafas menjadi saya.

dan memahami,
kenapa saya sayang sekali pada mereka.

Satu koin pa,
dua sisi.